Chapnews – Nasional – SURABAYA – Kisah inspiratif datang dari Abdul Malik Syaiful (49), seorang guru honorer asal Desa Pringgondani, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Dengan tekad membaja dan kesabaran menabung di kaleng biskuit bekas selama bertahun-tahun, Malik berhasil mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji pada tahun 1447 Hijriah atau 2026, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi panggilan suci.
Perjalanan spiritual Malik, yang didampingi istrinya, Mudrika (49), dimulai sejak mereka resmi menikah pada tahun 2001. Kala itu, dengan gaji sebagai guru honorer di pelosok yang hanya Rp25 ribu per bulan, pasangan ini sudah berikrar untuk bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci bersama. "Latar belakang kami adalah seorang guru honorer di SD Negeri 2 Pringgondani yang ada di pelosok. Mulai tahun 2001 dengan gaji pada waktu itu Rp25 ribu. Kami terus punya keinginan tekad dengan istri saya untuk bisa menjadi tamunya Allah," tutur Malik saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, baru-baru ini, seperti dilansir chapnews.id.

Untuk mencapai tujuan mulia itu, Malik dan Mudrika memanfaatkan kaleng biskuit bekas sebagai celengan. Setiap receh sisa pendapatan, betapapun kecilnya, mereka sisihkan dengan penuh harapan. Setelah 11 tahun berjuang menyisihkan uang, pada November 2012, tabungan mereka akhirnya cukup untuk mendaftarkan porsi haji bagi keduanya. "Alhamdulillah dengan menabung seadanya dari jerih payah kami akhirnya di tahun 2012 kami bisa mendaftar dua orang," imbuhnya.
Namun, tantangan belum berakhir. Pelunasan biaya haji masih menjadi rintangan berikutnya. Selain mengandalkan kenaikan gaji guru honorer yang perlahan mencapai Rp250 ribu per bulan, pasangan ini juga sempat mencoba peruntungan dengan beternak 300 ekor bebek petelur. "Di rumah ya juga ada istri usaha kecil-kecilan ternak bebek petelur seperti itu. Di awal kami [menabung] Rp10 ribu, Rp20 ribu, Rp30 ribu. pokoknya ada rezeki kami masukkan di omplong (kaleng) biskuit itu," jelas Malik.
Ujian berat datang saat pandemi Covid-19 melanda. Usaha bebek petelur yang menjadi tumpuan tambahan mereka terpaksa gulung tikar akibat melonjaknya harga pakan dan anjloknya harga telur. Meski kehilangan sumber penghasilan, Malik tidak patah arang. Ia justru menganggap sisa penjualan aset bebek tersebut sebagai modal terakhir untuk melunasi biaya haji. "Semuanya sudah kami jual semuanya. Ya dari itulah semuanya saya niatkan untuk sangu untuk pelunasan haji ini," tegasnya.
Kini, dengan kaki yang telah berpijak di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, dan keberangkatan ke Tanah Suci tinggal menghitung jam, Malik tak henti-hentinya mengucap syukur. Baginya, bisa menunaikan ibadah haji dengan latar belakang ekonomi yang serba pas-pasan adalah sebuah mukjizat dan anugerah luar biasa. "Masya Allah, ini adalah nikmat yang luar biasa, anugerah yang sangat besar bagi kami dan keluarga," ucapnya haru.
Malik juga menyimpan doa khusus bagi para siswanya di SD maupun di madrasah tsanawiyah tempatnya mengabdi. Ia berharap, kisah perjuangannya dapat menjadi inspirasi bagi anak didiknya di pelosok desa, bahwa tidak ada yang mustahil jika Allah SWT telah memanggil. "Kami ingin anak-anak kami, murid-murid kami… bisa seperti saya, bisa menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Karena barakah kami menjadi guru, kami hari ini bisa seperti ini," pungkas Malik, penuh harap. Ia meyakini, ketika Allah memanggil, siapapun dan apapun latar belakang ekonominya, pasti akan dimampukan.

