Ads - After Header

NTT Luluh Lantak! Ribuan Terlantar, Puluhan Jiwa Melayang!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali dilanda duka mendalam. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nagekeo akhir pekan lalu telah memicu krisis kemanusiaan yang serius, memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi dari tempat tinggal mereka. Data terbaru yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (16/8) dini hari menunjukkan skala dampak yang mengerikan, dengan puluhan korban jiwa dan ribuan bangunan mengalami kerusakan parah.

Konsentrasi pengungsi terbesar saat ini tercatat di Kabupaten Sikka, mencapai 3.356 jiwa. Mereka tersebar di GOR Samador dan di sepuluh titik pengungsian mandiri. Sementara itu, Kabupaten Manggarai melaporkan 2.078 pengungsi, dan sekitar 500 warga lainnya masih bertahan di Nagekeo. Sejumlah pengungsi juga dilaporkan telah mencapai wilayah Bima dan Kepulauan Selayar di provinsi lain.

NTT Luluh Lantak! Ribuan Terlantar, Puluhan Jiwa Melayang!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Tragedi gempa ini juga menelan korban jiwa. Total 47 orang dinyatakan meninggal dunia, dengan Kabupaten Manggarai menjadi wilayah terparah yang mencatat 23 korban jiwa, diikuti Manggarai Timur dengan 17 korban. Korban lainnya tersebar di Sikka (4 jiwa), Manggarai Barat (1 jiwa), Ende (1 jiwa), dan Nagekeo (1 jiwa). Selain itu, 101 warga mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam, membutuhkan penanganan medis segera.

Kerugian material akibat guncangan gempa yang telah diikuti oleh 341 kali gempa susulan ini juga sangat masif. Data sementara di wilayah NTT mencatat setidaknya 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Fasilitas publik vital juga tak luput dari kehancuran, termasuk 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintahan yang kini tidak dapat beroperasi optimal.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian menjadi prioritas utama penanganan darurat. "Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset," ungkap Berton dalam keterangan tertulisnya.

Merespons eskalasi bencana ini, Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses surat keputusan untuk menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan. Langkah serupa juga telah diambil secara resmi di tingkat kabupaten/kota terdampak. Kabupaten Manggarai telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari, diikuti dengan pembentukan pos komando. Kabupaten Ngada memberlakukan masa Tanggap Darurat Bencana dan pembentukan Pos Komando selama 30 hari, sementara Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana.

Tim gabungan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih bersiaga menyisir lokasi untuk melakukan pendataan dan verifikasi lanjutan. Untuk mendukung layanan medis kedaruratan, sebuah Rumah Sakit Lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Terkait akses mobilitas logistik dan evakuasi, jalur lintas darat Larantuka – Maumere terpantau sudah terhubung dan dapat dilalui. Namun, tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain lantaran akses jalan darat penghubung Ende – Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer