Chapnews – Ekonomi – JAKARTA – Industri gim Indonesia menunjukkan performa ekspor yang mengesankan, menembus angka USD60,8 juta pada tahun 2025. Namun, di balik capaian global yang gemilang ini, sebuah ironi pahit terkuak: pangsa pasar gim lokal di negeri sendiri masih terpuruk di angka 1%. Kondisi paradoks ini menjadi sorotan utama dalam pertemuan evaluasi kebijakan yang digelar pemerintah pada Rabu (1/4/2026).
Pertemuan strategis yang melibatkan pengembang, investor, dan praktisi industri gim ini diselenggarakan guna mengevaluasi serta memperkuat kerangka kebijakan. Tujuannya tak lain adalah mendorong gim buatan anak bangsa agar mampu menjadi "tuan rumah" di pasar domestik sekaligus bersaing ketat di kancah global.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, mengungkapkan bahwa nilai ekspor gim Indonesia pada tahun 2025 telah menempatkannya sebagai penyumbang ekspor terbesar keempat. Sektor ini hanya kalah dari subsektor fesyen, kriya, dan kuliner, menandakan potensi ekonomi yang signifikan.
Namun, Leontinus juga tidak menampik realitas lapangan yang memprihatinkan. "Saat ini, pangsa pasar gim lokal di dalam negeri masih sekitar 1%, sementara pasar domestik didominasi produk impor," tegasnya, menyoroti tantangan besar yang harus segera diatasi.
Menyikapi kondisi ini, pemerintah menegaskan komitmennya melalui percepatan implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2024. "Semangatnya jelas: kita ingin gim buatan lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu bersaing di kancah global," ujar Leontinus, menggarisbawahi visi pemerintah.
Ia menambahkan, partisipasi publik yang bermakna merupakan elemen krusial dalam perumusan kebijakan. Pemerintah menyadari bahwa implementasi regulasi di lapangan seringkali menghadapi kendala struktural, mulai dari isu pendanaan hingga dominasi publisher asing. Melalui forum Public Hearing, pemerintah secara aktif memposisikan diri sebagai pendengar.
"Pemerintah akan menjadi pendengar, sementara teman-teman pelaku industrilah yang menjadi pembicara utama. Tolong sampaikan masukan, saran, curhatan soal pain points, atau bahkan kritik pedas sekalipun. Jangan ada yang ditahan-tahan," pungkas Leontinus, menekankan pentingnya transparansi dan keterbukuan demi kemajuan industri gim nasional.


