Chapnews – Nasional – Jakarta – Durasi pelatihan bagi para peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih kini resmi dipersingkat. Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, mengumumkan bahwa program yang semula berlangsung selama dua bulan, kini hanya akan berjalan satu setengah bulan. Pemangkasan ini dilakukan menyusul evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan fisik dalam program tersebut.
"Saya mendapat informasi [waktunya] diperpendek, sehingga dipotong waktunya yang tadinya dua bulan menjadi sebulan setengah," ujar Dudung, seperti dikutip dari keterangan resminya pada Selasa (30/6). Ia menambahkan bahwa fokus pelatihan kini akan lebih ditekankan pada aspek manajemen perkoperasian, mengingat para peserta dipersiapkan sebagai calon manajer koperasi.

Pernyataan ini disampaikan Dudung usai melayat ke rumah duka almarhum M. Rifki Renaldi, salah satu peserta SPPI yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada hari yang sama. Dalam kesempatan tersebut, Dudung menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Rifki.
"Kami datang ke sini dengan mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya ananda Rifki pada saat pelatihan SPPI. Saya atas nama negara tentunya hadir untuk memberikan ucapan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya," kata Dudung. Ia bersama jajaran pemerintah dan TNI juga menyerahkan santunan sebagai bentuk kepedulian kepada keluarga almarhum. Setelah berdialog di rumah duka, rombongan Dudung melanjutkan ziarah ke makam Rifki untuk mendoakan dan memberikan penghormatan terakhir.
Insiden meninggalnya Rifki menambah daftar panjang sorotan terhadap Latsarmil. Sebelumnya, lima peserta lainnya juga dilaporkan meninggal dunia saat menjalani proses Latsarmil di berbagai satuan pendidikan TNI. Penyebab kematian bervariasi, mulai dari heat stroke, tuberkulosis, hingga henti jantung, yang mengindikasikan perlunya tinjauan ulang terhadap standar kesehatan dan keamanan pelatihan.
Menanggapi serangkaian insiden ini, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah memerintahkan evaluasi komprehensif terhadap program Latsarmil untuk calon manajer Koperasi Merah Putih. Sebagai tindak lanjut, Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah memutuskan untuk menghapus materi pelatihan menembak. Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa kegiatan fisik dan pelatihan yang berkaitan dengan kemiliteran akan dikurangi secara signifikan, dengan penekanan pada pengembangan kapasitas manajerial.

