Chapnews – Ekonomi – Surabaya menjadi saksi komitmen Pelindo dalam menjaga kualitas lingkungan. PT Pelindo Terminal Petikemas (PTP) bersama Pelindo Regional 3 secara serentak menggelar program uji emisi gas buang bagi kendaraan angkutan peti kemas. Inisiatif ini dilaksanakan di dua lokasi strategis, yakni Terminal Teluk Lamong (TTL) dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS), sebagai bagian dari upaya korporasi mendukung keberlanjutan operasional pelabuhan.
Tak sendirian, Pelindo menggandeng Dinas Perhubungan Kota Surabaya untuk memastikan akurasi pemeriksaan dan verifikasi kondisi emisi. Keterlibatan dinas terkait menegaskan keseriusan program ini dalam mengendalikan emisi kendaraan angkutan barang yang hilir mudik di area terminal, sekaligus mendorong implementasi standar operasional yang lebih ramah lingkungan.

Program ini dijadwalkan berlangsung di dua titik. Pada 13 Agustus 2026, pengujian dipusatkan di Terminal Teluk Lamong, dilanjutkan pada 18 Agustus 2026 di Terminal Petikemas Surabaya. Ambisius, Pelindo menargetkan pemeriksaan terhadap 100 unit truk peti kemas. Tujuan utamanya adalah untuk memetakan kondisi emisi gas buang kendaraan sesuai parameter yang ditetapkan, serta mengidentifikasi unit-unit yang membutuhkan perawatan atau perbaikan pada sistem mesin dan kontrol emisinya.
Lebih dari sekadar pemeriksaan teknis, inisiatif ini merupakan wujud nyata komitmen korporasi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 13, yang berfokus pada penanganan perubahan iklim. Selain mengukur emisi, kegiatan ini juga berfungsi sebagai platform edukasi teknis bagi perusahaan angkutan dan para pengemudi. Mereka dibekali pemahaman mendalam tentang vitalnya pemeliharaan kendaraan secara berkala demi menjaga performa mesin optimal, efisiensi pembakaran, dan tentu saja, kualitas gas buang yang lebih baik.
Widyaswendra, Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, menegaskan bahwa uji emisi ini adalah langkah preventif krusial. "Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya melakukan pengukuran terhadap kondisi emisi kendaraan, tetapi juga mendorong pengguna jasa dan mitra transportasi untuk meningkatkan kepatuhan terhadap aspek lingkungan dalam kegiatan operasional," jelas Widyaswendra, seperti dikutip dari chapnews.id. Ia menambahkan bahwa data yang terkumpul diharapkan menjadi panduan awal bagi pemilik kendaraan untuk segera melakukan evaluasi dan pemeliharaan jika ditemukan parameter emisi yang tidak sesuai standar.
Ia juga menyoroti peran vital truk peti kemas sebagai tulang punggung rantai logistik, penghubung utama antara terminal dan kawasan hinterland. Dengan intensitas operasional yang sangat tinggi, aspek emisi gas buang menjadi perhatian utama dalam mewujudkan pengelolaan transportasi logistik yang benar-benar berkelanjutan dan bertanggung jawab.

