Namun, tantangan krusial berikutnya adalah efektivitas pencatatan dan pelacakan aktivitas di sepanjang rantai pasok tersebut. Ketersediaan data yang terstruktur mengenai asal-usul material, proses pengumpulan, pengolahan, hingga dampak lingkungannya menjadi esensial. Ini penting agar seluruh proses daur ulang dapat diukur secara akurat dan ditelusuri dengan transparan, memberikan nilai tambah pada setiap tahapan.
Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi), Christine Halim, mengungkapkan pentingnya kolaborasi. Ia menjelaskan bahwa melalui kerja sama, aktivitas pengumpulan dan daur ulang akan diintegrasikan dengan sistem pencatatan digital serta fitur pelacakan material (material traceability).

"Sistem ini akan mendokumentasikan perjalanan material secara lebih sistematis, dari satu titik ke titik lainnya," ujar Christine dalam keterangannya di Jakarta, Kamis lalu, seperti dilansir chapnews.id. Digitalisasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, akuntabilitas, dan transparansi dalam industri daur ulang plastik nasional.
Revolusi Digital: Daur Ulang Plastik RI Kian Canggih!


