Chapnews – Ekonomi – Bank Indonesia (BI) baru-baru ini merilis proyeksi Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk Juli 2026, menunjukkan gambaran yang beragam dalam dinamika konsumsi masyarakat. Meskipun secara tahunan penjualan eceran diperkirakan masih akan tumbuh positif, namun secara bulanan diprediksi mengalami kontraksi setelah periode puncak permintaan akibat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
Menurut laporan BI yang diterima chapnews.id pada Selasa (11/8/2026), IPR Juli 2026 diproyeksikan mencapai level 224,4, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 0,9 persen (yoy). Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa peningkatan ini utamanya didorong oleh kenaikan penjualan pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Selain itu, pertumbuhan positif juga terlihat pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya.

Namun, Denny juga menyoroti sisi lain dari proyeksi tersebut. "Secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan menurun sebesar -0,3 persen (mtm). Penurunan ini dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah," ungkap Denny dalam keterangannya. Hal ini mengindikasikan adanya penyesuaian pola belanja masyarakat setelah periode intensif konsumsi.
Meski demikian, kinerja bulanan Juli 2026 ini masih dinilai lebih baik dibandingkan dengan Juli 2025, yang mencatat penurunan lebih dalam sebesar -4,1 persen (mtm). Perbandingan ini menunjukkan bahwa laju normalisasi permintaan pada tahun ini tidak seberat tahun sebelumnya.
Menengok ke belakang, pada Juni 2026, IPR tercatat sebesar 225,0. Kinerja positif ini ditopang oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Barang Lainnya. Secara bulanan, penjualan eceran Juni 2026 juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,7 persen (mtm), sebuah perbaikan signifikan dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sempat terkontraksi -1,5 persen (mtm).
Denny mengungkapkan, "Perkembangan positif pada Juni tersebut sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode HBKN dan libur sekolah." Ini menegaskan bahwa stimulus dari hari raya dan liburan sekolah berhasil menopang konsumsi pada bulan tersebut, sebelum akhirnya mengalami normalisasi yang diproyeksikan terjadi di bulan Juli.

