Chapnews.id – Upaya memadamkan kobaran api pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan tengah menghadapi tantangan yang sangat berat. Tim Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan mengungkapkan bahwa medan yang ekstrem serta keterbatasan sumber daya menjadi penghalang utama dalam menekan luasnya area yang terbakar. Meski demikian, komitmen untuk memadamkan api tetap menjadi prioritas utama demi mencegah dampak lingkungan yang lebih luas.
Kepala Balai Pengendalian Karhutla Wilayah Kalimantan, Yudo Shekti Mutiko, menjelaskan bahwa petugas di lapangan harus berhadapan dengan kondisi geografis yang tidak bersahabat. Salah satu kendala paling krusial yang dihadapi adalah masalah aksesibilitas. Banyak titik api yang muncul di lokasi-lokasi terpencil yang sulit ditembus oleh kendaraan darat maupun personel secara cepat.

"Tantangan utamanya adalah aksesibilitas yang luar biasa sulit. Tidak semua titik kebakaran bisa kami jangkau dengan mudah. Namun, meskipun medannya sangat sulit, kami tetap berupaya maksimal, termasuk mencari jalan melalui jalur air jika memang memungkinkan," ujar Yudo dalam keterangan resminya.
Kondisi ini memaksa petugas untuk berpikir kreatif dan bekerja ekstra keras. Selain mengandalkan jalur darat, tim juga harus memanfaatkan jalur perairan untuk mendekati titik api. Di sisi lain, penggunaan teknologi pemadaman udara melalui helikopter water bombing pun tidak selalu bisa menjadi solusi instan. Faktor cuaca dan kondisi teknis di lapangan sering kali membuat operasi udara tidak dapat dilakukan secara optimal.
Selain masalah akses, krisis air akibat musim kemarau panjang menjadi momok bagi para petugas. Minimnya sumber air alami di sekitar lokasi kebakaran membuat proses pemadaman menjadi sangat lambat. Untuk menyiasati hal tersebut, Manggala Agni telah menyiapkan strategi jangka panjang dengan mengembangkan sumur-sumur bor di titik-titik rawan. Langkah ini diambil agar petugas memiliki cadangan air yang cukup untuk memadamkan api di lokasi yang sulit mendapatkan sumber air alami.
Yudo juga menekankan bahwa dedikasi para petugas Manggala Agni tidak mengenal waktu. Mereka bekerja tanpa henti, baik di bawah terik matahari maupun di kegelapan malam, demi memastikan api tidak semakin menjalar. Semangat juang ini didasari oleh tanggung jawab besar untuk melindungi ekosistem Kalimantan.
"Kesulitan memang ada, tapi bukan berarti kami berhenti berupaya. Teman-teman di lapangan bekerja terus, jangankan siang, malam pun tetap dikerjakan," tambahnya.
Lebih lanjut, Yudo menegaskan bahwa Manggala Agni memiliki mentalitas yang kuat dalam menjalankan tugas. Meskipun risiko keselamatan jiwa selalu membayangi setiap kali mereka terjun ke medan kebakaran, para petugas tetap teguh pada tugasnya. "Jika yang lain memilih mundur, Manggala Agni akan tetap bertahan di garis depan meskipun ada risiko keselamatan yang nyata," pungkasnya.
Selain mengerahkan personel profesional, pemerintah juga terus memperkuat peran masyarakat melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA). Keterlibatan warga lokal diharapkan mampu menjadi mata dan telinga bagi petugas, serta mempercepat respon awal saat api pertama kali muncul di pemukiman atau lahan warga. Melalui kolaborasi antara petugas dan masyarakat, diharapkan penanganan karhutla di Kalimantan dapat lebih efektif dan terintegrasi.


