Chapnews – Ekonomi – Industri perhotelan Indonesia tengah menghadapi badai. Data terbaru menunjukkan tingkat okupansi hotel anjlok hingga 40% di kuartal I-2025. Kondisi ini bukan sekadar penurunan biasa, melainkan krisis yang mengancam ribuan pekerja dengan potensi PHK massal. Ketua PHRI DKI Jakarta, Sutrisno Iwantono, bahkan mengungkapkan fakta mengejutkan: hampir seluruh hotel di Jakarta mengalami penurunan okupansi drastis.
Ancaman PHK menjadi nyata. Sekitar 70% pengusaha hotel bersiap melakukan pemutusan hubungan kerja jika situasi tak kunjung membaik. Jumlah karyawan yang terancam diprediksi mencapai 10-30%, terutama pekerja kontrak dan harian lepas. Penurunan okupansi terjadi di semua segmen pasar, dengan dampak terparah di segmen pemerintahan.

Penyebab utama lesunya industri perhotelan? Kebijakan pemerintah yang memperketat anggaran. Sebanyak 66,7% pengusaha hotel menunjuk kebijakan ini sebagai biang keladi penurunan okupansi. Penghematan anggaran pemerintah, yang berdampak pada pemotongan kegiatan di hotel, seperti penggunaan ruang meeting dan restoran, memukul keras industri ini.
Dampak krisis ini meluas, tak hanya pada hotel dan restoran. Sektor pariwisata secara keseluruhan terancam, termasuk pemasok, UMKM, logistik, hingga pelaku seni dan budaya. Sutrisno mendesak pemerintah untuk bijak dalam melakukan penghematan anggaran, agar dampaknya tidak terlalu memukul sektor vital seperti pariwisata dan perhotelan. Ia berharap pemerintah lebih selektif dalam memangkas anggaran, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika tidak, PHK massal di industri perhotelan akan menjadi kenyataan yang pahit.


