Ads - After Header

Potongan Kecil Tapi Bikin Ojol Merugi

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Kebijakan baru mengenai tarif potongan aplikator yang seharusnya menjadi angin segar bagi para pengemudi ojek online (ojol) justru berujung menjadi petaka bagi dapur mereka. Alih-alih merasa diuntungkan, sejumlah mitra pengemudi justru mengeluhkan penurunan pendapatan yang cukup signifikan sejak diberlakukannya aturan baru tersebut.

Perubahan kebijakan ini merujuk pada Peraturan Presiden (Pepres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Ekosistem Transportasi Berbasis Platform Digital. Dalam aturan tersebut, besaran potongan yang diambil oleh pihak aplikator terhadap pendapatan driver dipangkas dari yang semula 20 persen menjadi hanya 8 persen saja. Secara logika, angka 8 persen terlihat jauh lebih kecil dan menguntungkan bagi para pekerja lapangan ini. Namun, realita di jalanan berkata lain.

Potongan Kecil Tapi Bikin Ojol Merugi
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Netty Simangunsong, salah satu perwakilan dari Lady Ojol Indonesia, mengungkapkan bahwa penurunan pendapatan ini bukan disebabkan oleh besaran potongan itu sendiri, melainkan hilangnya berbagai fasilitas pendukung. Menurutnya, selama ini potongan 20 persen yang diterapkan aplikator sebenarnya mencakup berbagai manfaat tambahan yang sangat membantu kesejahteraan driver.

"Jika potongan tetap di angka 8 persen, kami tidak keberatan. Namun, masalahnya adalah ketika potongan menjadi 8 persen, berbagai program manfaat yang biasa kami terima menjadi hilang," ujar Netty saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Netty menjelaskan bahwa selama ini, potongan 20 persen tersebut digunakan oleh perusahaan aplikator untuk mendanai berbagai program insentif dan promo. Salah satu yang paling dirasakan manfaatnya adalah program penyelesaian tugas harian. Dalam skema lama, driver yang berhasil mencapai target harian tertentu akan mendapatkan reward atau bonus tambahan. Bonus inilah yang sering kali menjadi penyambung hidup di luar pendapatan murni dari jasa pengantaran penumpang.

Kini, dengan skema potongan yang jauh lebih rendah, pihak aplikator tampaknya melakukan efisiensi besar-besaran. Dampaknya, program-program promo untuk menarik penumpang maupun insentif untuk driver menjadi sangat terbatas atau bahkan hilang sama sekali. Akibatnya, para driver kini hanya mengandalkan pendapatan murni dari tarif perjalanan, tanpa ada lagi "napas tambahan" dari bonus-bonus harian.

Kondisi ini menciptakan dilema baru bagi ekosistem transportasi digital. Di satu sisi, regulasi pemerintah bertujuan untuk melindungi mitra, namun di sisi lain, perubahan struktur biaya ini justru memangkas sumber penghasilan tambahan yang selama ini menjadi tumpuan para pengemudi.

"Bantuan-bantuan dari aplikator, baik kepada mitra pengemudi maupun kepada merchant (mitra usaha), kemungkinan besar akan berkurang drastis. Jadi, sebenarnya ada nilai manfaat yang kami dapatkan saat potongan masih di angka 20 persen," pungkas Netty. Fenomena ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dan perusahaan aplikator agar kebijakan perlindungan tidak justru mematikan kesejahteraan para mitra di lapangan.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer