Chapnews – Nasional – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara terbuka mengakui bahwa berbagai upaya yang digencarkan pemerintah provinsi untuk menanggulangi masalah kualitas udara buruk di ibu kota tidak akan membuahkan hasil optimal. Menurutnya, akar masalah utama terletak pada operasional industri dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara yang masih menjamur di wilayah penyangga Jakarta. Pernyataan ini disampaikan Pramono di Jakarta Selatan pada Kamis (20/8), sebagaimana dilaporkan chapnews.id.
"Persoalan krusialnya adalah bagaimana kita mengkoordinasikan wilayah aglomerasi Jakarta ini, terutama bagi daerah-daerah yang masih memberikan izin bagi industri mereka untuk menggunakan bahan bakar batu bara," tegas Pramono. Ia menyoroti bahwa jika penggunaan batu bara oleh industri dan PLTU di sekitar Jakarta dapat dihentikan, dampaknya terhadap penurunan polusi udara akan jauh lebih signifikan. Sebagai contoh, ia secara spesifik menyebut keberadaan PLTU Suralaya di Banten sebagai salah satu kontributor emisi.

Pramono menjelaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta selama ini telah mengambil langkah-langkah konkret, seperti mendorong penggunaan kendaraan listrik, memperbaiki sistem transportasi umum, dan mengedukasi warga untuk beralih dari kendaraan pribadi. Namun, ia pesimis langkah-langkah tersebut akan efektif sepenuhnya. "Apapun yang kita lakukan di dalam Jakarta, mulai dari mobil listrik hingga perbaikan transportasi publik, tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah jika di area sub-urban atau daerah penyangga Jakarta masih diizinkan industri menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara. Itu adalah salah satu sumber utama polusi," urainya.
Oleh karena itu, Pramono sangat berharap pemerintah pusat dapat turun tangan dan melakukan koordinasi lintas daerah. "Sebagai Gubernur Jakarta, saya sangat berharap ada koordinasi yang kuat dengan pemerintah pusat agar pihak-pihak yang masih memberikan kontribusi emisi tinggi ini dapat diatur bersama-sama," pungkasnya, menekankan pentingnya sinergi untuk mengatasi persoalan kualitas udara yang kompleks ini.


