Chapnews – Ekonomi – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Group, melalui sub holding PTPN III (Persero) PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, secara resmi memulai proyek percontohan penanaman kedelai seluas 1.000 hektare. Inisiatif strategis ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan secara signifikan menekan angka impor kedelai yang selama ini menjadi beban bagi neraca perdagangan Indonesia.
Proyek ambisius ini telah diluncurkan secara serentak di 20 titik lokasi kerja PTPN IV PalmCo. Acara penanaman perdana dipusatkan di Kebun Adolina Regional 2, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, pada Jumat pekan lalu. Langkah ini menandai dimulainya upaya masif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada kedelai impor.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, menegaskan bahwa pelaksanaan proyek percontohan kedelai ini adalah tindak lanjut dari penugasan pemerintah dalam mendukung visi asta cita serta penguatan ketahanan pangan nasional, khususnya pada komoditas kedelai. "Alhamdulillah, PTPN IV telah melaksanakan tanam perdana proyek percontohan kedelai. Ini merupakan tindak lanjut kita atas arahan Bapak Presiden melalui Bapak Menteri Pertanian untuk meningkatkan produksi nasional dan menekan impor kedelai," ujar Jatmiko dalam keterangan resminya, yang diterima chapnews.id baru-baru ini.
Jatmiko menjelaskan bahwa lahan seluas 1.000 hektare yang digunakan untuk tahap awal ini merupakan areal peremajaan atau konversi sawit milik perusahaan. Optimalisasi lahan ini menjadi kunci efisiensi program. "Kami mengoptimalkan areal peremajaan ataupun konversi sawit. Jadi, kurang lebih selama enam bulan sebelum sawit ditanam kembali, kami akan menanam kedelai terlebih dahulu," tambahnya.
Langkah ini sangat krusial mengingat data menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, Indonesia menghadapi defisit kedelai rata-rata mencapai 2,5 juta ton per tahun. Angka ini setara dengan sekitar 97 persen kebutuhan kedelai nasional yang masih dipenuhi dari impor, menunjukkan urgensi untuk meningkatkan produksi dalam negeri.
Keberhasilan proyek percontohan ini menjadi penentu bagi pengembangan komoditas kedelai yang lebih luas di masa depan. Jatmiko menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian investasi sebagaimana diamanatkan oleh Danantara. "Karena kami belum pernah menanam kedelai sebelumnya, kami siapkan pilot project 1.000 Ha dulu. Dan sesuai arahan Danantara, jika ini berhasil serta memperlihatkan kelayakan di berbagai aspek, insya Allah akan dilanjutkan dengan luasan yang lebih masif sehingga harapan pemerintah untuk meningkatkan produksi dan menekan impor kedelai tadi, dapat terwujud," pungkasnya, penuh harap.

