Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok tajam pada perdagangan Jumat (29/8/2025), ditutup di angka Rp16.499 per dolar AS. Pelemahan ini mencapai 147 poin atau sekitar 0,90%, menunjukkan tekanan signifikan terhadap mata uang Garuda. Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, faktor eksternal dan internal menjadi penyebab utama penurunan ini.
Dari sisi eksternal, data ekonomi AS yang positif menjadi pemicu utama. Pertumbuhan ekonomi AS kuartal kedua tahun 2025 mencapai 3,3 persen, melampaui proyeksi awal 3,1 persen. Angka ini menunjukkan kekuatan ekonomi AS yang signifikan. Lebih lanjut, penurunan klaim pengangguran awal menjadi 229.000 juga menandakan pasar tenaga kerja yang sehat. Situasi ini membuat dolar AS menguat dan menekan Rupiah. Situasi politik AS juga turut berperan, dengan pertikaian antara Gubernur The Fed dan Presiden Trump yang memicu ketidakpastian. Sementara itu, Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga di masa mendatang. Harapan perdamaian di Ukraina yang memudar, serta kebijakan AS terkait impor minyak mentah Rusia oleh India, juga turut menambah tekanan.

Namun, faktor internal juga tak kalah berpengaruh. Ketegangan sosial dan politik dalam negeri yang memanas sejak Kamis (28/8/2025) dipercaya turut menekan nilai tukar Rupiah. Rencana pemerintah memberikan tunjangan perumahan kepada DPR memicu gelombang protes dan kecaman publik. Kasus korupsi yang melibatkan mantan aktivis 1998 yang kini menjabat sebagai pejabat negara semakin memperparah situasi. Ironisnya, pejabat tersebut sebelumnya dikenal lantang menyuarakan hukuman mati bagi pejabat korup. Gabungan faktor eksternal dan internal ini menciptakan badai sempurna yang mengakibatkan pelemahan Rupiah yang cukup signifikan. Kondisi ini perlu diwaspadai dan membutuhkan langkah-langkah strategis dari pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah.


