Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif pada penutupan perdagangan Selasa (8/9/2026), berhasil menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda ditutup perkasa di level Rp17.632 per dolar AS, melonjak 8 poin atau setara 0,05 persen. Penguatan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang penuh gejolak, didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan fundamental domestik yang positif.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti salah satu pendorong utama datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Para pejabat Iran dilaporkan telah mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi serangan balasan terhadap aset-aset mereka, yang dapat menargetkan infrastruktur minyak dan gas di seluruh wilayah Teluk. "Selat Hormuz tetap menjadi titik fokus utama bagi pasar minyak. Iran mengisyaratkan akan memberlakukan zona pembatasan baru di Teluk serta koridor pelayaran alternatif," jelas Ibrahim dalam risetnya. Langkah ini sontak memicu kekhawatiran akan potensi perlambatan lalu lintas kapal tanker yang melintasi jalur perairan strategis tersebut, yang berpotensi memicu lonjakan harga komoditas.

Namun, di tengah bayang-bayang ketegangan, ada pula sinyal-sinyal yang sedikit meredakan kekhawatiran. Data dari Kpler menunjukkan adanya peningkatan lalu lintas kapal pengangkut komoditas di Selat Bab el-Mandeb, jalur perairan penting lainnya. Tercatat 29 kapal melintas pada hari Senin, naik dari 17 kapal sehari sebelumnya. Selain itu, upaya diplomasi juga memberikan secercah harapan, dengan Iran yang menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman terkait pengaturan di Selat Hormuz hampir tercapai. Ini berpotensi menyediakan mekanisme untuk meredakan gangguan pelayaran di masa mendatang.
Fokus pasar global kini beralih ke rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Indeks Harga Produsen (PPI) AS dijadwalkan akan diumumkan pada hari Kamis, disusul oleh Indeks Harga Konsumen (CPI) pada hari Jumat. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan akan semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Pasar saat ini masih memperhitungkan peluang sekitar 60 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pekan depan, sebuah proyeksi yang dipengaruhi oleh laporan nonfarm payrolls AS yang kuat pada pekan sebelumnya.
Dari sisi domestik, sentimen positif datang dari Bank Indonesia (BI). Cadangan devisa (cadev) Indonesia tercatat meningkat menjadi USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi akhir Juli 2026 yang sebesar USD145,3 miliar, menunjukkan ketahanan ekonomi dan stabilitas eksternal Indonesia yang menjadi penopang kuat bagi pergerakan rupiah.

