Ads - After Header

Rupiah Menguat Tajam di Tengah Ketidakpastian Global

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda berhasil menguat sebesar 84 poin atau setara dengan kenaikan 0,47 persen, sehingga bertengger di level Rp17.882 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang penuh dengan spekulasi geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar saat ini adalah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Spekulasi mengenai potensi memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama para pelaku pasar. Isu ini mencuat menyusul rencana pengiriman tambahan 10.000 tentara AS ke kawasan tersebut serta rencana serangan udara yang dikaitkan dengan dinamika politik pasca pemilu paruh waktu di AS.

Rupiah Menguat Tajam di Tengah Ketidakpastian Global
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kondisi ini menciptakan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Mengingat peran penting Selat Hormuz dalam pasokan energi dunia, potensi gangguan di wilayah tersebut dapat memicu lonjakan inflasi global. Jika inflasi meningkat, pasar cenderung berekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, yang pada akhirnya memengaruhi aliran modal ke negara berkembang termasuk Indonesia.

Di sisi lain, pasar keuangan global juga tengah mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Terdapat perbedaan nada di antara para pejabat bank sentral AS. Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, memberikan sinyal bahwa kondisi ekonomi saat ini berada di ambang maksimalnya dalam hal lapangan kerja, sehingga ia menekankan pentingnya sikap sabar dalam melakukan penyesuaian suku bunga.

Sebaliknya, nada yang lebih agresif atau hawkish datang dari Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari. Ia justru menyerukan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk menjaga stabilitas ekonomi. Perbedaan pandangan ini membuat pelaku pasar bersikap waspada sembari menanti rilis data nonfarm payrolls AS bulan September. Para ekonom memproyeksikan adanya perlambatan penyerapan tenaga kerja, di mana penambahan lapangan kerja diperkirakan hanya sekitar 90.000, menurun drastis dari angka 162.000 pada bulan sebelumnya.

Meski demikian, data inflasi yang menunjukkan tren penurunan telah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Peluang kenaikan suku bunga pada bulan Oktober kini menyusut tajam menjadi hanya 26 persen, jauh di bawah proyeksi pekan lalu yang mencapai 69 persen.

Dari sisi domestik, penguatan rupiah juga didukung oleh langkah proaktif Bank Indonesia (BI). BI telah memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai instrumen dasar (underlying) dalam operasi moneter. Kebijakan ini mencakup penggunaan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Langkah strategis ini bertujuan untuk memberikan ruang lebih luas bagi perbankan dalam mengelola likuiditas serta merangsang aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan dalam negeri. Melalui kebijakan ini, stabilitas nilai tukar diharapkan tetap terjaga di tengah guncangan eksternal.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer