Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, mencapai level Rp17.721 per dolar AS. Kondisi ini dipicu oleh sentimen eksternal yang memanas, terutama terkait ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memuncak.
Mata uang Garuda tercatat merosot 27 poin atau sekitar 0,15 persen pada akhir perdagangan. Penurunan ini mengindikasikan respons pasar terhadap dinamika global yang penuh ketidakpastian, di mana isu-isu geopolitik seringkali berdampak langsung pada stabilitas mata uang.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti pernyataan Amerika Serikat yang berencana mengumumkan rangkaian sanksi paling keras terhadap Iran. "D-Day ekonomi" bagi Iran disebut-sebut akan segera tiba, sebuah retorika yang menambah kekhawatiran di pasar finansial global.
Dalam risetnya, Ibrahim menjelaskan bahwa pernyataan dari pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, telah memperingatkan adanya perang ekonomi terhadap Iran. "Pernyataan Bessent muncul setelah sejumlah pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, memperingatkan adanya perang ekonomi terhadap negara tersebut, di tengah kebuntuan yang terus berlanjut di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda," tulis Ibrahim.
Bessent sendiri dijadwalkan akan memaparkan detail sanksi baru ini dalam konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat (18.00 GMT), yang diperkirakan akan menjadi titik krusial bagi pasar global.
Dari pihak Iran, rencana sanksi baru AS ini menuai kecaman keras. Meskipun Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan solusi diplomatik untuk meredakan ketegangan, nada ancaman juga dilontarkan oleh pejabat tinggi Iran. Mohsen Rezaee, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, dengan tegas menyatakan bahwa "tidak akan ada satu tetes minyak pun yang diekspor" melalui Hormuz atau "di mana pun di Teluk Persia" jika perang ekonomi terus berlanjut.
Konflik ini telah berdampak langsung pada pasokan minyak mentah global. Sumber-sumber perdagangan melaporkan bahwa penawaran minyak mentah Iran kepada pembeli di Tiongkok telah menurun drastis, menyebabkan harga melonjak akibat blokade AS yang memangkas pengiriman dari Teheran. Situasi ini menambah tekanan pada harga komoditas dan berpotensi memicu inflasi global, yang pada gilirannya dapat semakin menekan nilai tukar mata uang seperti rupiah.


