Chapnews – Ekonomi – Cadangan beras milik Perum Bulog mengalami penurunan signifikan, kini berada di angka 4,722 juta ton dari sebelumnya yang sempat menyentuh 5,4 juta ton. Rizal, Direktur Utama Bulog, menjelaskan bahwa penyusutan cadangan ini utamanya dipicu oleh masifnya penyaluran beras untuk program bantuan pangan serta inisiatif Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang gencar dilakukan.
Dalam keterangannya saat menerima kunjungan Komisi XI DPR di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Senin lalu, Rizal menyatakan, "Stok yang tersimpan di gudang kini telah berkurang. Dari 5,4 juta ton sebelumnya, kini tersisa 4,722 juta ton." Penurunan ini, lanjutnya, merupakan konsekuensi dari upaya Bulog menjaga ketersediaan dan stabilitas harga beras di masyarakat.

Rizal merinci, salah satu faktor utama yang menguras cadangan adalah distribusi bantuan pangan untuk periode Februari-Maret. Program ini menyasar 33,2 juta keluarga penerima manfaat, dengan masing-masing menerima bantuan dua kali. "Penurunan angka ini terjadi karena alokasi besar untuk bantuan pangan bulan Februari-Maret itu, yang menjangkau 33,2 juta penerima manfaat sebanyak dua kali, totalnya mencapai sekitar 600.000 ton," jelas Rizal.
Tak berhenti di situ, Bulog juga melanjutkan penyaluran bantuan pangan untuk bulan Juli, Agustus, dan September, dengan total volume beras yang digelontorkan mendekati 1 juta ton. Selain itu, program SPHP turut berkontribusi signifikan terhadap penyusutan stok. "Penyaluran SPHP sejak awal tahun hingga saat ini telah mencapai 800.000 ton. Ini menunjukkan volume pengeluaran yang cukup besar, alhamdulillah," papar Rizal.
Sementara itu, Rizal juga menginformasikan kondisi stok beras Bulog di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tercatat sebesar 22.051 ton. Rinciannya, sekitar 21.000 ton tersimpan di gudang, dan 802 ton sisanya masih dalam proses pengolahan baik di tingkat lokal maupun regional. Penyaluran masif ini menegaskan peran vital Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan.

