Ads - After Header

Strategi Baru Hilirisasi Mineral Indonesia

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Pemerintah Indonesia tengah melakukan transformasi besar-besaran dalam strategi pengelolaan kekayaan alam nasional. Jika sebelumnya fokus utama terletak pada pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter, kini arah kebijakan hilirisasi mineral kritis telah memasuki babak baru yang lebih kompleks dan bernilai tinggi. Fokus utama kini bergeser pada penguatan ekosistem industri baterai dan teknologi penyimpanan energi.

Langkah strategis ini diambil untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri di kancah global. Pemerintah menyadari bahwa membangun smelter saja tidak cukup. Untuk memenangkan persaingan internasional, Indonesia harus membenahi berbagai aspek fundamental, mulai dari efisiensi struktur pasokan bahan baku, keekonomian proses produksi, hingga mekanisme pembentukan harga yang kompetitif. Selain itu, standarisasi mutu produk lanjutan dan kepatuhan terhadap regulasi rantai pasok global menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi.

Strategi Baru Hilirisasi Mineral Indonesia
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Guna memastikan transisi ini berjalan terukur, pemerintah telah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan industri hilir yang sangat ambisius. Dokumen strategis tersebut mencakup 28 komoditas mineral strategis dengan proyeksi kebutuhan investasi yang fantastis, yakni mencapai USD 618,1 miliar hingga tahun 2040 mendatang. Sektor mineral dan batu bara diposisikan sebagai tulang punggung sekaligus peluang investasi terbesar dalam peta jalan tersebut.

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, mengungkapkan bahwa Indonesia sedang bergerak melalui tiga tahapan pengembangan yang sistematis. Menurutnya, fondasi industri melalui pembangunan smelter telah berhasil diletakkan pada fase sebelumnya.

"Saat ini, prioritas kita telah memasuki Tahap Dua. Fokusnya adalah memperluas pengembangan ke arah industri baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS), serta berbagai manufaktur lainnya yang memiliki nilai tambah tinggi," jelas Heldy dalam keterangan resminya, Rabu (30/9/2026).

Pergeseran fokus ini bukan tanpa alasan. Data menunjukkan bahwa sektor hilirisasi memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data terbaru, pada semester I-2026, realisasi investasi di sektor hilirisasi telah menembus angka Rp300,1 triliun. Angka ini menyumbang sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional.

Pertumbuhan ini juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan sebesar 6,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Melalui penguatan ekosistem baterai ini, Indonesia berharap tidak hanya menjadi eksportir bahan mentah atau produk setengah jadi, tetapi mampu menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global teknologi hijau masa depan. Melansir laporan dari chapnews.id, langkah ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja berkualitas dan memperkuat struktur industri manufaktur dalam negeri secara berkelanjutan.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer