Chapnews – Nasional – Jakarta, Sumatra Utara dilanda banjir besar, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menemukan fakta mengejutkan terkait penyebabnya. Pantauan udara menunjukkan aktivitas pembukaan lahan secara masif untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), pertambangan, hutan tanaman industri, dan perkebunan kelapa sawit menjadi pemicu utama bencana tersebut.
Aktivitas tersebut memicu erosi parah dan longsor material kayu dalam skala besar. Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH, Rizal Irawan, menyatakan pengawasan akan diperluas ke Batang Toru, Garoga, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) lainnya di Sumatra Utara.

Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, langsung turun tangan dengan mendatangi sejumlah perusahaan, termasuk PT Agincourt Resources, PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), dan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengembang PLTA Batang Toru.
Sebagai langkah tegas, pemerintah membekukan sementara operasional ketiga perusahaan tersebut dan mewajibkan audit lingkungan. Langkah ini diambil untuk mengendalikan tekanan ekologis di hulu DAS yang sangat penting bagi masyarakat.
"Mulai hari ini, seluruh perusahaan di hulu DAS Batang Toru wajib menghentikan operasional dan menjalani audit lingkungan. Kami telah memanggil ketiga perusahaan untuk pemeriksaan resmi pada 8 Desember 2025 di Jakarta," tegas Menteri Hanif. DAS Batang Toru dan Garoga merupakan kawasan strategis dengan fungsi ekologis dan sosial yang tidak boleh dikompromikan. chapnews.id akan terus memantau perkembangan kasus ini.



