Chapnews – Ekonomi – Perubahan data desil dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau yang kini dikenal sebagai Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) telah memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Sejumlah warga yang sebelumnya menjadi penerima bantuan sosial (bansos) dari negara, kini mendapati status desil mereka berubah, bahkan ada yang terancam tidak lagi menerima perlindungan sosial. Kasus Timbul, seorang tukang becak yang sempat menjadi sorotan publik setelah desilnya melonjak dari 1 ke 9 (meskipun kemudian diperbarui menjadi 3), menjadi bukti nyata dampak perubahan ini. Menanggapi fenomena tersebut, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul akhirnya buka suara, mengungkap fakta-fakta di balik pergeseran desil yang terjadi.
Chapnews.id merangkum beberapa fakta kunci terkait penyebab perubahan desil dan implikasinya terhadap penerima bansos:

1. Penyebab Utama Fluktuasi Desil: Data Baru BKKBN Belum Tervalidasi
Gus Ipul menjelaskan, akar masalah dari perubahan signifikan desil, khususnya pada DTSEN Volume 3, adalah masuknya sekitar 12 juta data baru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang belum sepenuhnya melalui proses verifikasi dan validasi. Penambahan data dalam jumlah besar tanpa proses penyaringan awal ini menyebabkan fluktuasi data yang cukup drastis.
"Baru masuk 12 juta data baru dari BKKBN yang belum dilakukan verifikasi dan validasi. Sehingga loncat-loncat. Nah sekarang sudah distabilkan, dirapikan, diverifikasi dan validasi. Insyaallah dalam waktu 1-2 minggu ke depan, data ini akan makin akurat," ungkap Gus Ipul di Jakarta, Kamis (3/9/2026) malam.
2. Koreksi Data Melalui DTSEN Volume 3.1
Perubahan desil yang sempat terjadi secara signifikan pada DTSEN Volume 3 kini telah dikoreksi melalui DTSEN Volume 3.1 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah untuk segera menstabilkan dan meningkatkan akurasi data setelah adanya penambahan data baru.
3. Komitmen Pemerintah untuk Akurasi Data
Pemerintah, melalui Kementerian Sosial dan Badan Pusat Statistik (BPS), terus berupaya melakukan konsolidasi dan pemutakhiran DTSEN secara berkala untuk meningkatkan akurasi data. Kolaborasi dengan pemerintah daerah juga menjadi kunci dalam proses pemutakhiran ini, memastikan data yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
4. Bukan Otomatis Dicoret dari Daftar Penerima Bansos
Meskipun terjadi pergeseran desil, Gus Ipul dengan tegas membantah anggapan bahwa perubahan tersebut secara otomatis akan mencoret seseorang dari daftar penerima bantuan sosial. Ia menekankan bahwa penyaluran bantuan tetap menunggu penetapan penerima pada periode penyaluran yang telah ditentukan.
"Tidak serta-merta orang yang desilnya berubah otomatis dicoret. Ini karena kita masih menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran," jelas Gus Ipul. Ia menambahkan, "Misalnya saat ini ada lonjakan-lonjakan, itu tidak otomatis bansos hilang, sebab kita belum menyalurkan. Untuk PBI (Penerima Bantuan Iuran) sendiri, penyaluran dilakukan setiap bulan."
Pernyataan ini memberikan angin segar bagi masyarakat yang khawatir akan kehilangan haknya atas bantuan sosial. Pemerintah memastikan bahwa proses verifikasi dan validasi akan terus berjalan untuk mencapai data yang paling akurat, sehingga bantuan dapat tersalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

