Chapnews – Ekonomi – Gelombang kenaikan harga jual produk industri di Indonesia tak terhindarkan. Fenomena ini, menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, berakar pada ketidakpastian global yang kian memanas. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran diyakini menjadi pemicu utama yang menghantam jalur distribusi global, mempersempit ketersediaan material esensial, dan pada akhirnya berujung pada lonjakan inflasi domestik.
Data yang dihimpun Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengonfirmasi bahwa survei Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global mengindikasikan eskalasi tekanan inflasi serta disrupsi serius pada rantai pasok. Konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, diidentifikasi sebagai katalis utama kenaikan drastis biaya energi dan bahan baku. "Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain," tegas Agus Gumiwang, dalam keterangan resminya pada Minggu (5/4/2026), seperti dikutip dari chapnews.id.

Laporan Kemenperin lebih lanjut merinci kondisi pada Maret 2026, di mana terjadi kontraksi pada volume output dan pesanan baru. Gangguan suplai bahan baku tidak hanya memicu kenaikan harga yang signifikan, tetapi juga menyebabkan keterlambatan pengiriman terparah sejak Oktober 2021. Akibatnya, tekanan biaya produksi melonjak drastis, dengan inflasi harga bahan baku mencapai puncaknya dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini memaksa para produsen untuk melakukan penyesuaian harga jual demi menjaga keberlanjutan operasional dan profitabilitas.
Meskipun demikian, di tengah badai ketidakpastian global, Kemenperin menyoroti ketahanan luar biasa yang ditunjukkan oleh sektor manufaktur nasional. Indeks PMI manufaktur Indonesia pada Maret 2026 berhasil bertahan di angka 50,1, sebuah capaian yang mengindikasikan masih berada di zona ekspansi. "Kami kaget sekaligus bersyukur bahwa di tengah kondisi yang super berat, baik dari sisi global maupun domestik, rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur tanah air," pungkas Agus, optimis.


