Chapnews – Ekonomi – Indonesia memegang posisi yang sangat strategis dalam evolusi industri kendaraan berbasis perangkat lunak atau Software-Defined Vehicles (SDV). Potensi besar ini didukung oleh kekayaan mineral kritis yang melimpah, sumber energi terbarukan yang menjanjikan, serta bonus demografi yang menjadi modal kuat bagi negara ini.
Setidaknya ada empat pendorong utama yang akan mengantarkan Indonesia menuju rantai nilai yang lebih tinggi dalam industri SDV. Faktor-faktor tersebut meliputi besarnya permintaan domestik, kebutuhan mendesak untuk industrialisasi, upaya optimalisasi nilai tambah dari sumber daya alam yang dimiliki, serta tekanan global akibat perubahan iklim dan urbanisasi yang semakin pesat.

Anindya Novyan Bakrie, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menjelaskan bahwa transformasi industri otomotif menuju kendaraan berbasis perangkat lunak bukan sekadar tentang data dan teknologi digital. Lebih jauh, ia mencakup kebutuhan esensial akan material maju, sumber energi, dan kapabilitas manufaktur berteknologi tinggi.
"Ketika kita membicarakan mobil yang bertransformasi menjadi perangkat lunak, kita juga sedang membicarakan sebuah platform yang tidak hanya untuk perangkat lunak dan data, tetapi juga untuk ilmu material, mineral kritis, energi, dan tentu saja manufaktur maju," jelas Anindya, seperti dikutip dari chapnews.id pada Rabu (24/6/2026). Pernyataan visioner ini disampaikan dalam sesi bertajuk "When Cars Became Software" pada rangkaian 17th Annual Meeting of the New Champions 2026 Summer Davos yang diselenggarakan oleh World Economic Forum (WEF) di Dalian, Tiongkok, pada Selasa (23/6).

