Chapnews – Ekonomi – Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang kini menembus angka Rp16.250 per liter, memicu fenomena menarik di kalangan konsumen. Banyak masyarakat dilaporkan beralih menggunakan Pertalite, menciptakan kekhawatiran akan potensi peningkatan beban subsidi pemerintah. Menanggapi dinamika pasar ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara terkait dampak peralihan konsumsi BBM tersebut.
Dalam keterangannya di Kompleks DPR RI, Kamis lalu, Purbaya menyatakan bahwa pihaknya tidak mengkhawatirkan dampak signifikan terhadap anggaran subsidi BBM yang harus ditanggung negara. Menurutnya, meskipun ada sebagian konsumen yang berpindah, jumlahnya tidak akan masif. Ia berargumen bahwa spesifikasi teknis kendaraan akan menjadi faktor penentu utama dalam pemilihan jenis BBM yang sesuai.

"Kita tidak hitung (beban anggaran tambahan subsidi). Tapi pasti ada beberapa persen yang pindah (menggunakan Pertalite)," ujar Purbaya. Ia menambahkan, "Karena kan tidak semuanya pindah. Karena kan yang beli Pertamax karena mobilnya cocok Pertamax." Purbaya mengakui bahwa hingga saat ini, Kementerian Keuangan belum memiliki data pasti mengenai persentase masyarakat yang telah beralih dari Pertamax ke Pertalite pasca kenaikan harga. Kondisi ini juga berarti belum ada perhitungan konkret mengenai potensi beban tambahan anggaran subsidi untuk BBM.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai detail data dan proyeksi, Purbaya secara singkat mengarahkan pertanyaan tersebut kepada pihak lain. "Mungkin ditanya Pak Bahlil yang mengerti itu," pungkasnya, merujuk pada Menteri Investasi Bahlil Lahadalia yang kerap memberikan pernyataan terkait kebijakan ekonomi dan investasi. Informasi lebih lanjut mengenai dampak riil peralihan konsumsi ini mungkin akan diungkap oleh pihak terkait dalam waktu dekat, seiring dengan pemantauan harga dan pola konsumsi BBM di masyarakat oleh chapnews.id.


