Chapnews – Nasional – Surabaya – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan sebuah fakta yang menjadi sorotan serius dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Provinsi Jawa Timur tercatat sebagai daerah dengan angka kematian jemaah haji tertinggi se-Indonesia, dengan total 65 jemaah yang meninggal dunia. Pernyataan ini disampaikan Dahnil saat berada di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jumat (12/6) lalu, menyoroti tantangan serius dalam penyelenggaraan haji.
Meski angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 100 jemaah, Dahnil menegaskan bahwa Jawa Timur masih menjadi penyumbang mortalitas tertinggi secara nasional. "Jawa Timur adalah salah satu daerah yang tingkat mortalitasnya tinggi, tingkat kematian jemaahnya tinggi. Hari ini 65 orang. Walaupun memang ada penurunan signifikan dibandingkan tahun yang lalu," ujar Dahnil, sebagaimana dilaporkan oleh chapnews.id.

Mayoritas jemaah yang wafat diketahui memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid. Dahnil merinci, kondisi seperti pneumonia, gangguan pernapasan, kebutaan, hingga masalah jantung menjadi faktor utama penyebab kematian. "Mayoritas itu pneumonia ya, napas, pernapasan, kebutaan, jantung karena memang punya komorbid dari dalam tubuh. Kalau itu kan istirahat menjadi catatan serius," jelasnya.
Menariknya, Dahnil menampik anggapan bahwa usia menjadi patokan tunggal penentu kelayakan kesehatan jemaah. Menurutnya, faktor usia bersifat debatable dan tidak selalu berkorelasi langsung dengan kondisi fisik. "Kalau umur, ini debatable karena bukan ukuran. Begitu Anda perhatikan ada bapak-bapak kita yang umur 70 tahun petani tapi sehat bugar, Anda-anda misalnya umur 40 tahun 50 tahun kadang-kadang sudah kayak 70 tahun gitu. Itu banyak yang begitu kan Mas," paparnya, memberikan perbandingan yang relevan.
Menyikapi data ini, Wamenhaj berkomitmen untuk memperketat penerapan istithaah kesehatan bagi calon jemaah haji di masa mendatang, khususnya di Jawa Timur. Fokus utama akan diberikan pada pemeriksaan kesehatan di dalam negeri, terutama untuk mendeteksi penyakit komorbid secara lebih cermat. "Catatan buat Jawa Timur depan memang yang harus kita perketat itu istithaah kesehatan," tegas Dahnil. Ia menambahkan, "Yang didorong tentu pemeriksaan di dalam negeri. Pemeriksaan di dalam negeri itu akan lebih lebih ketat terutama yang komorbid. Komorbid penyakit-penyakit tertentu ya jantung, darah tinggi dan sebagainya."
Selain itu, Dahnil juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. "Yang juga tidak kalah penting itu adalah bagaimana kami terus bisa meningkatkan pelayanan. Jadi PR kami tentu adalah terus meningkatkan pelayanan," pungkasnya, menunjukkan komitmen Kementerian Agama untuk terus berbenah demi kenyamanan dan keselamatan jemaah.

