Chapnews – Ekonomi – Davos, Swiss – Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyoroti tantangan krusial dalam pembiayaan berkelanjutan di negara berkembang, yaitu kemampuan eksekusi di lapangan, bukan sekadar ketersediaan modal. Hal ini diungkapkan dalam diskusi panel "Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets" di World Economic Forum (WEF) 2026, Davos, Swiss (20/1/2026).
Hery menekankan bahwa modal global untuk keberlanjutan sebenarnya sudah tersedia. "Pertanyaannya adalah bagaimana menyalurkan modal tersebut secara aman, efisien, dan berskala ke pihak yang paling membutuhkan," ujarnya.

Lebih lanjut, Hery menyoroti peran vital UMKM dalam perekonomian negara berkembang. Menurutnya, UMKM seringkali terlewatkan dalam diskusi global tentang pembiayaan berkelanjutan. "Tidak akan ada transisi hijau atau pertumbuhan inklusif tanpa keterlibatan UMKM. Pembiayaan berkelanjutan harus inklusif," tegasnya.
Dalam konteks global, Hery menekankan pentingnya bank lokal sebagai anchor bank dalam menyalurkan blended finance ke sektor riil. Tanpa kemampuan eksekusi di tingkat lokal, pembiayaan berkelanjutan berisiko mandek pada tataran konsep.
Senada dengan Hery, Presiden dan CEO TCW, Kathryn Koch, menilai bahwa persepsi risiko terhadap emerging markets seringkali berlebihan. Ia bahkan menyebut bahwa mengabaikan negara berkembang justru meningkatkan risiko investasi. "Justru berisiko jika tidak memiliki eksposur ke emerging markets," ujarnya.
Kathryn menambahkan bahwa kompleksitas pasar negara berkembang dapat dikelola secara efektif melalui sistem keuangan lokal yang kuat. Bank-bank domestik dengan jaringan luas dan pemahaman mendalam terhadap sektor riil memiliki peran strategis dalam menerjemahkan modal global menjadi pembiayaan yang produktif dan berkelanjutan.


