Ads - After Header

Rupiah Tersungkur! Minyak Melonjak, Inflasi Mengintai?

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Mata uang Garuda, Rupiah, kembali menunjukkan pelemahan tipis di penghujung perdagangan Kamis (12/3/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup anjlok 7 poin atau sekitar 0,04 persen, parkir di level Rp16.893 per dolar AS. Pelemahan ini tak lepas dari gejolak global yang terus membayangi.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa tekanan terhadap Rupiah sebagian besar berasal dari sentimen eksternal yang memanas. Salah satunya adalah lonjakan harga minyak mentah global yang fantastis, sempat menembus angka USD100 per barel pada hari Kamis. Kenaikan drastis ini dipicu oleh serangkaian insiden geopolitik, termasuk laporan serangan terhadap dua kapal tanker minyak internasional di dekat Irak. Ditambah lagi, Oman dilaporkan mengevakuasi terminal ekspor minyak utamanya, sementara Iran menunjukkan indikasi untuk memblokir Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Rupiah Tersungkur! Minyak Melonjak, Inflasi Mengintai?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Situasi ini sontak memicu kekhawatiran pasar akan lonjakan inflasi jangka panjang, yang pada gilirannya dapat mendorong bank sentral untuk mengadopsi kebijakan moneter yang lebih agresif. Di sisi lain, sinyal yang campur aduk mengenai konflik Iran juga turut memicu volatilitas harga di pasar logam sepanjang pekan ini. Meskipun Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat berulang kali menyatakan bahwa konflik Iran hampir mereda, ketegangan dan permusuhan antara AS, Israel, dan Iran nyatanya masih terus berlanjut.

Di tengah ketidakpastian tersebut, rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Februari yang sesuai ekspektasi pasar ternyata belum mampu meredakan kekhawatiran akan potensi kenaikan tekanan harga di masa depan, terutama yang didorong oleh sektor energi. Oleh karena itu, perhatian pasar kini sepenuhnya tertuju pada rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) untuk bulan Januari, yang dijadwalkan pada hari Jumat. Data PCE ini sangat krusial karena merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed) dan akan menjadi penentu utama dalam membentuk ekspektasi inflasi jangka panjang.

Bergeser ke ranah domestik, Indonesia justru menunjukkan sinyal positif. Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Februari 2026 tercatat sangat baik, baik dari sisi penerimaan pajak maupun belanja negara. Penerimaan pajak bahkan menunjukkan pertumbuhan impresif di atas 30 persen, sebuah indikator ketahanan ekonomi di tengah badai global, demikian informasi yang dihimpun chapnews.id.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer