Chapnews – Nasional – Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera melaporkan kemajuan signifikan dalam pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir dan longsor. Progres ini terlihat jelas di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang menjadi fokus utama upaya pemulihan pascabencana.
Berdasarkan laporan harian Satgas PRR per 13 Maret 2026, sebanyak 110 unit huntap telah rampung sepenuhnya, menunjukkan peningkatan hampir dua kali lipat dari capaian hari sebelumnya yang hanya 56 unit. Sementara itu, 1.359 unit lainnya masih dalam tahap konstruksi dari total target ambisius 36.669 unit.

Provinsi Aceh memimpin progres pembangunan dengan 104 unit huntap selesai dari target 27.104 unit, dan 388 unit lainnya sedang dalam pengerjaan. Di Sumatra Utara, 524 unit sedang dibangun dari target 5.815 unit. Sumatra Barat juga menunjukkan kemajuan dengan 6 unit selesai dan 447 unit dalam proses dari total 3.750 unit yang direncanakan.
Pencapaian luar biasa ini merupakan buah dari kolaborasi lintas sektor yang kuat. Berbagai pihak, mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, BNPB, Polri, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, hingga organisasi seperti Danantara, Yayasan Buddha Tzu Chi, Baznas, Kadin, pemerintah daerah, dan donatur perorangan, bersatu padu mewujudkan hunian layak ini.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, yang baru-baru ini meninjau langsung lokasi pembangunan huntap di Aceh Utara, menyatakan optimisme tinggi. "Alhamdulillah, saya memantau langsung proses pembangunan huntap ini berjalan lancar, mulai dari bongkar material di Pelabuhan Belawan hingga tiba di Kuala Cangkoy dan dikerjakan dengan aman," ujar Djamari dalam siaran pers Kemenko Polkam, Kamis (19/2). Ia menambahkan, "Saya optimistis seluruh target dapat diselesaikan akhir Maret 2026."
Setiap unit huntap dirancang dengan standar kualitas tinggi, menggunakan dinding dan atap berbahan baja galvanis yang tidak hanya tahan karat tetapi juga tahan gempa. Mengadopsi sistem konstruksi knock down atau rumah bangun cepat, proses pengerjaan menjadi lebih efisien dan memungkinkan penyintas segera menempati hunian yang layak. Tak hanya itu, setiap rumah dilengkapi dengan dua kasur, meja makan, kursi, televisi, serta kamar mandi dengan fasilitas lengkap, menjamin kenyamanan dan martabat para penghuninya.
Selain fokus pada pembangunan huntap, Satgas PRR juga memberikan perhatian khusus melalui penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH). Bantuan ini diperuntukkan bagi penyintas yang memilih untuk tidak menempati hunian sementara. Setiap kepala keluarga menerima Rp600.000 per bulan selama tiga bulan, dengan total akumulasi Rp1,8 juta.
Hingga saat ini, penyaluran DTH telah mencapai 100 persen, menjangkau 13.728 penerima di ketiga provinsi tersebut. Rinciannya, Aceh mendistribusikan kepada 7.807 penerima, Sumatra Utara kepada 4.162 penerima, dan Sumatra Barat kepada 1.759 penerima.


