Oleh Taufik Fajar | Jum’at, 24 April 2026 | 16:37 WIB
Chapnews – Ekonomi – JAKARTA – Gejolak di kawasan Timur Tengah, khususnya sekitar Selat Hormuz, kembali menyita perhatian global. Konflik ini memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan, yang secara langsung mengancam stabilitas ekonomi Indonesia. Meskipun ada tanda-tanda meredanya tensi, situasi geopolitik dinilai masih sangat rentan dan berpotensi memburuk kapan saja.

Dampak konflik terhadap perekonomian Tanah Air diperkirakan akan terasa melalui empat jalur utama: neraca eksternal, nilai tukar rupiah, kondisi fiskal negara, dan tingkat inflasi.
Dari sisi eksternal, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak mentah akan merasakan tekanan berat akibat kenaikan harga energi global. Kondisi ini diprediksi akan memperburuk neraca perdagangan energi dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).
"Meski ada sedikit penyeimbang dari kenaikan harga komoditas lain seperti batu bara dan CPO, dominasi kenaikan harga minyak membuat dampak bersihnya tetap negatif," jelas Direktur PT Insight Investments Management (PT IIM), Camar Remoa, dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (24/4/2026).
Tekanan serupa juga membayangi nilai tukar rupiah. Peningkatan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi, ditambah sentimen global yang mendorong investor untuk ‘flight to safety’ atau mencari aset aman, menyebabkan rupiah melemah.
"Dari sisi nilai tukar, tekanan muncul dari meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi serta fenomena flight to safety menyebabkan Rupiah melemah ke kisaran USD17.100. Ruang intervensi Bank Indonesia melalui cadangan devisa yang terbatas dikhawatirkan berpotensi membutuhkan penyesuaian suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah ke depan," imbuh Camar Remoa.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memantau perkembangan situasi ini dengan cermat dan menyiapkan langkah mitigasi yang diperlukan untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

