Chapnews – Ekonomi – Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data kinerja perekonomian nasional yang menunjukkan hasil positif. Pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menjadi sorotan utama, menandakan resiliensi dan momentum pertumbuhan di tengah dinamika global.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, dalam keterangannya di Jakarta, mengonfirmasi capaian tersebut. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II sebesar 5,29 persen secara year on year," ujarnya. chapnews.id merangkum beberapa fakta kunci yang menjadi penopang di balik angka pertumbuhan 5,29 persen ini, seperti dilansir pada Sabtu (08/08/2026).

1. Daya Beli dan Konsumsi Masyarakat Jadi Motor Utama
Moh Edy Mahmud menjelaskan bahwa daya beli dan konsumsi masyarakat konsisten menunjukkan tren positif sepanjang periode tersebut. Ini menjadi indikator vital yang menopang pertumbuhan ekonomi. Komponen pengeluaran rumah tangga, kata Edy, adalah kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
2. Konsumsi Rumah Tangga Melonjak Signifikan
BPS merinci bahwa konsumsi rumah tangga di kuartal II-2026 mencatat peningkatan impresif sebesar 5,06 persen (yoy). Angka ini sekaligus menegaskan perannya sebagai pilar utama ekonomi, dengan kontribusi mencapai 53,32 persen dari total PDB nasional. Lonjakan ini menunjukkan kepercayaan konsumen dan aktivitas belanja yang kuat di masyarakat.
3. Investasi Tumbuh Pesat sebagai Penopang Kedua
Selain konsumsi rumah tangga, sektor investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tampil sebagai kekuatan pendorong yang signifikan. PMTB berhasil tumbuh pesat sebesar 6,87 persen. Kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 29,36 persen, menjadikannya komponen penopang terbesar kedua setelah konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan investasi ini mengindikasikan iklim bisnis yang kondusif dan ekspansi kapasitas produksi.


