Ads - After Header

Ekonomi RI Terancam? Defisit Dagang Berlanjut!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Jakarta – Kabar kurang menggembirakan datang dari sektor perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit pada Juni 2026, melanjutkan tren negatif dari bulan sebelumnya. Angka defisit yang mencapai USD450 juta ini sekaligus mengakhiri periode surplus perdagangan yang telah bertahan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, sebuah rekor yang kini telah runtuh.

Defisit pada bulan Juni ini bukan yang pertama kalinya terjadi dalam waktu dekat. Sebelumnya, pada Mei 2026, neraca perdagangan juga telah mengalami defisit signifikan sebesar USD1,61 miliar. Situasi ini tentu memicu kekhawatiran di kalangan ekonom dan pembuat kebijakan, mengingat stabilitas neraca perdagangan merupakan salah satu indikator penting kesehatan ekonomi suatu negara.

Ekonomi RI Terancam? Defisit Dagang Berlanjut!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam rilis resminya di Jakarta, menjelaskan bahwa defisit pada Juni 2026 terutama dipicu oleh sektor komoditas migas. "Pada Juni 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar USD0,45 miliar. Defisit ini utamanya disebabkan oleh defisit komoditas migas," terang Ateng.

Lebih lanjut, Ateng merinci bahwa defisit di sektor migas mencapai angka yang cukup besar, yakni USD3,49 miliar. Komoditas penyumbang defisit terbesar di sektor ini adalah hasil minyak dan minyak mentah. Peningkatan impor kedua komoditas ini, yang kemungkinan dipicu oleh kebutuhan domestik yang tinggi atau harga komoditas global, menjadi faktor utama yang menggerus surplus perdagangan secara keseluruhan.

Meski demikian, tidak semua sektor menunjukkan kinerja buruk. Di sisi lain, neraca perdagangan komoditas non-migas justru mencatatkan surplus yang cukup sehat, mencapai USD3,04 miliar. Beberapa komoditas yang menjadi penopang utama surplus non-migas antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72). Kinerja positif di sektor non-migas ini sedikit meredam dampak negatif dari defisit migas, namun belum cukup untuk menutupi keseluruhan defisit yang terjadi.

Situasi defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut ini tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Upaya menekan impor migas, melalui diversifikasi energi atau peningkatan produksi domestik, serta terus mendorong ekspor non-migas, akan menjadi kunci untuk mengembalikan neraca perdagangan ke jalur surplus di masa mendatang dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Ikuti kanal WhatsApp Chapnews.id untuk mendapatkan informasi terkini setiap hari.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer