Ads - After Header

Ancaman Ganda! IKN Terbakar, Abu Krakatau Halangi Hujan!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, melaporkan bahwa upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, masih terkendala. Hingga saat ini, seluas 458 hektare lahan di wilayah IKN dilaporkan masih aktif terbakar, memicu kekhawatiran serius dari berbagai pihak, termasuk Presiden Prabowo Subianto.

Dalam keterangannya usai rapat di Mako Marinir, Jakarta, Senin (7/9), Suharyanto merinci bahwa 458 hektare lahan yang terbakar di IKN tersebut merupakan bagian signifikan dari total 734,81 hektare karhutla yang masih belum berhasil dipadamkan di seluruh Indonesia. "Di Kalimantan Timur, khususnya di kawasan IKN, seluas 458 hektare masih dalam penanganan dan belum sepenuhnya padam," tegas Suharyanto.

Ancaman Ganda! IKN Terbakar, Abu Krakatau Halangi Hujan!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Secara nasional, data BNPB menunjukkan bahwa total luas hutan dan lahan yang terdampak karhutla mencapai sekitar 72.008 hektare. Kendati demikian, sebagian besar, yakni 71.274,29 hektare, telah berhasil dipadamkan, menyisakan area yang masih aktif terbakar seperti di IKN.

Kekhawatiran terhadap karhutla di IKN juga sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto. Dalam rapat terpisah, Presiden Prabowo secara khusus menginstruksikan Kepala BNPB Suharyanto untuk memberikan atensi penuh. "Yang harus diperhatikan juga kebakaran yang dekat IKN itu, itu harus diperhatikan mungkin kita harus kerahkan aset-aset lebih, untuk jangan sampai kebakaran itu sampai ke zona inti," ujar Presiden, menekankan pentingnya melindungi fasilitas vital di calon ibu kota negara.

Di tengah upaya penanganan karhutla yang belum usai, BNPB kini dihadapkan pada tantangan ganda: sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Fenomena alam ini, menurut Suharyanto, menjadi kendala serius bagi pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang sangat dibutuhkan untuk memicu hujan.

Suharyanto menjelaskan, sebaran abu vulkanik yang pekat di wilayah DKI Jakarta, Banten, Lampung, hingga Sumatra Selatan membuat pesawat yang digunakan untuk OMC tidak dapat melakukan penerbangan. Untuk mengatasi hambatan ini, BNPB bersama BMKG berencana mengalihkan pusat operasi. "Jika wilayah-wilayah tersebut tidak memungkinkan, kami akan melaksanakan OMC dari Jawa Tengah, tepatnya dari Semarang. Pesawat akan terbang dari Semarang," terangnya.

Langkah ini diambil dengan harapan dapat segera mendatangkan hujan. Hujan diyakini menjadi solusi paling efektif untuk meluruhkan abu vulkanik yang saat ini mengganggu aktivitas dan kehidupan masyarakat. "Salah satu upaya yang paling tepat untuk meluruhkan abu vulkanik adalah dengan mendatangkan hujan," tutup Suharyanto, menegaskan urgensi tindakan tersebut.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer