Chapnews.id – Sebuah peristiwa medis yang mengkhawatirkan terjadi di Dusun Pelem, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebanyak empat orang warga setempat dilaporkan terkonfirmasi positif terjangkit penyakit antraks. Kasus ini diduga kuat berawal dari kebiasaan mengonsumsi daging kambing yang mati secara mendadak akibat sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengungkapkan bahwa penularan ini berkaitan erat dengan sebuah tradisi lokal yang dikenal dengan istilah porak atau mbrandu. Dalam tradisi tersebut, warga biasanya membeli hewan ternak yang telah mati dengan tujuan untuk membantu meringankan beban ekonomi pemilik ternak. Namun, dalam kejadian kali ini, praktik tersebut justru menjadi pintu masuk masuknya bakteri antraks ke tubuh manusia.

"Informasinya memang berasal dari kegiatan mbrandu tersebut. Daging dari hewan yang mati itu kemudian dikonsumsi secara bersama-sama oleh warga," jelas Ismono saat memberikan keterangan kepada media, Jumat (2/10).
Kronologi kejadian ini bermula pada September lalu, ketika sejumlah warga di dusun tersebut mulai mengeluhkan gejala kesehatan yang tidak biasa. Gejala yang muncul menyerupai luka koreng pada bagian kulit. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, tujuh orang sempat ditetapkan sebagai suspek atau terduga pengidap antraks.
Melalui penyelidikan epidemiologi yang mendalam, tim medis menemukan adanya keterkaitan antara gejala tersebut dengan riwayat kontak langsung warga terhadap kambing yang sebelumnya mengalami kondisi lemas dan mati secara tiba-tiba. Setelah dilakukan uji laboratorium menggunakan metode PCR, akhirnya dipastikan ada empat orang yang positif terinfeksi antraks.
Selain empat orang yang terkonfirmasi, pihak kesehatan juga melakukan penelusuran kontak terhadap populasi berisiko. Hasilnya, ditemukan sebanyak 47 orang lainnya yang memiliki riwayat paparan terhadap hewan maupun produk olahan kambing yang sama.
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, Ismono memastikan bahwa keempat warga yang positif antraks tersebut telah mendapatkan penanganan medis yang intensif. Saat ini, kondisi kesehatan mereka dilaporkan telah pulih sepenuhnya. "Mereka sudah sehat, tidak ada masalah lagi," tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi lonjakan kasus, pemerintah setempat telah memberikan profilaksis atau obat pencegahan kepada para suspek dan 47 orang yang berisiko tinggi. Dinas Kesehatan juga berkomitmen melakukan pemantauan ketat terhadap seluruh kontak erat selama dua kali masa inkubasi, atau sekitar 60 hari ke depan.
Hingga saat ini, belum ditemukan adanya kasus baru di wilayah tersebut. Namun, otoritas kesehatan tetap memberikan imbauan keras kepada masyarakat agar tidak sembarangan menyembelih, mengolah, atau mengonsumsi hewan ternak yang sakit atau mati mendadak. Warga diminta segera melapor kepada petugas kesehatan atau dinas terkait jika menemukan kematian hewan yang tidak wajar guna mencegah penyebaran penyakit zoonosis ini lebih luas. Melalui koordinasi lintas sektor, pengendalian antraks di Gunungkidul terus diperketat demi keamanan masyarakat.

