Chapnews.id – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) akhirnya mengungkap strategi besar di balik layar mengenai proses transformasi perusahaan yang tengah mereka jalankan. Langkah perubahan ini tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan yang sangat terukur guna memastikan perusahaan tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mampu tumbuh secara berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III, Denaldy Mulino Mauna, memaparkan bahwa transformasi ini merupakan sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari titik paling krusial, yakni fase bertahan hidup atau surviving. Menurutnya, ketika sebuah perusahaan berada dalam tekanan kinerja yang berat dan menghadapi risiko kerugian, prioritas utama bukanlah mengejar keuntungan besar secara cepat, melainkan memastikan operasional tetap berjalan.

"Transformasi atau perubahan yang harus kita lakukan itu memiliki fase-fasenya sendiri. Fase pertama adalah surviving. Pada saat kita mengalami kerugian, fokus utama kita adalah memikirkan langkah apa yang harus diambil agar perusahaan tetap bisa bertahan untuk hidup," ujar Denaldy dalam keterangan resminya di Jakarta.
Setelah berhasil melewati masa kritis dan kondisi keuangan perusahaan mulai menunjukkan stabilitas, PTPN kemudian melangkah ke tahap berikutnya, yaitu fix the fundamental. Pada fase ini, manajemen fokus melakukan perbaikan menyeluruh terhadap fondasi bisnis dan proses operasional. Tujuannya adalah untuk menciptakan struktur organisasi dan sistem kerja yang lebih kuat, yang nantinya akan menjadi landasan utama dalam membangun pertumbuhan jangka panjang yang stabil.
Lebih lanjut, Denaldy menjelaskan bahwa peran PTPN kini telah berkembang jauh melampaui sekadar pengelola komoditas perkebunan konvensional. Sebagai bagian dari mandat strategis negara, PTPN memegang tanggung jawab besar dalam menjaga ketahanan pangan dan energi nasional. Jika sebelumnya masyarakat hanya mengenal PTPN melalui komoditas kelapa sawit, karet, tebu, dan kopi, kini cakupan bisnis mereka telah meluas.
PTPN kini juga mendapatkan penugasan khusus untuk mengembangkan berbagai komoditas pangan strategis lainnya. Beberapa di antaranya adalah pengembangan bawang putih, kedelai, hingga ubi kayu. Langkah diversifikasi ini diambil untuk memperkuat kedaulatan pangan Indonesia agar tidak terlalu bergantung pada impor.
Perluasan lini bisnis ini juga membuka peluang emas bagi PTPN untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai sektor, termasuk dunia akademisi. PTPN membuka ruang seluas-luasnya bagi kerja sama dengan perguruan tinggi guna melakukan riset dan inovasi teknologi pertanian. Melalui sinergi antara pengalaman industri dan keahlian ilmiah, PTPN optimis dapat meningkatkan produktivitas komoditas pangan nasional secara signifikan. Melansir laporan dari chapnews.id, transformasi ini diharapkan menjadi cetak biru bagi BUMN lain dalam menghadapi tantangan ekonomi masa depan.


