Chapnews.id – Langkah drastis tengah diambil oleh Danantara Indonesia dalam upaya menyelamatkan keuangan negara dari beban perusahaan plat merah yang tidak produktif. Badan pengelola investasi ini secara resmi mengumumkan telah menutup dan merampingkan sebanyak 364 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini terus mencatatkan kerugian.
Keputusan berani ini diambil sebagai bagian dari misi besar untuk menghentikan "pendarahan" finansial yang telah berlangsung lama. Dengan melakukan pembersihan massal terhadap entitas-entitas yang tidak efisien, Danantara menargetkan pencapaian laba bersih konsolidasi yang sangat ambisius, yakni mencapai angka Rp360 triliun pada tahun ini.

Kepala BP BUMN sekaligus CEO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari perombakan struktur korporasi paling masif dalam sejarah Indonesia. Menurutnya, penyederhanaan ini sangat krusial untuk menyaring perusahaan mana yang benar-benar memiliki daya saing dan kesehatan finansial yang baik.
"Hingga saat ini, Danantara telah berhasil merampingkan dan menutup 364 perusahaan BUMN yang merugi atau tidak efisien. Tujuannya adalah menyederhanakan total 1.074 perusahaan agar nantinya hanya tersisa di bawah 200 entitas saja," ungkap Dony dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Dony menambahkan bahwa restrukturisasi besar-besaran ini dilakukan demi memutus beban masa lalu yang menghambat pertumbuhan, sehingga fokus utama perusahaan kini beralih pada pengejaran target laba bersih sebesar Rp360 triliun.
Dalam menjalankan misi penataan portofolio terhadap 1.074 entitas tersebut, Danantara menerapkan empat pilar strategi utama. Pilar pertama adalah konsolidasi atau merger. Melalui strategi ini, sekitar 200 perusahaan akan dilebur berdasarkan kesamaan lini bisnisnya agar lebih efisien.
Beberapa langkah konkret dalam pilar konsolidasi ini meliputi penyatuan 23 kawasan industri menjadi satu entitas tunggal, penggabungan 5 manajer investasi menjadi satu wadah, serta penyatuan 60 rumah sakit BUMN di bawah satu induk perusahaan. Selain itu, 120 hotel milik negara akan dipersatukan dalam satu payung manajemen, sementara 16 perusahaan asuransi akan diciutkan menjadi hanya tiga sektor utama, yaitu asuransi jiwa, umum, dan kredit. Sektor sekuritas juga akan dirampingkan menjadi hanya dua entitas. Sebagian besar proses penggabungan ini ditargetkan tuntas pada akhir tahun ini.
Sementara itu, pilar kedua adalah likuidasi. Dalam skema ini, tercatat sebanyak 213 perusahaan ditargetkan untuk dibubarkan secara permanen karena dianggap tidak lagi memberikan nilai tambah. Daftar perusahaan yang akan dilikuidasi ini mencakup 50 anak atau cucu usaha dari Telkom serta 124 entitas yang berada di bawah naungan Pertamina.
Melalui langkah radikal ini, pemerintah berharap wajah BUMN Indonesia akan berubah menjadi lebih ramping, lincah, dan yang terpenting, mampu memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan negara melalui profitabilitas yang tinggi.

