Chapnews – Nasional – Kepergian Paus Fransiskus di usia 88 tahun meninggalkan duka mendalam bagi dunia, tak terkecuali Indonesia. Dua organisasi Islam terbesar di Tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pemimpin Gereja Katolik tersebut. Kedua organisasi ini mengenang Paus Fransiskus sebagai sosok inklusif dan penuh kasih sayang.
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, dalam keterangannya, Selasa (23/4), mengatakan bahwa kasih sayang Paus Fransiskus kepada seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang merupakan teladan yang sempurna. Ia juga menyinggung inisiatif bersejarah Paus bersama Syekh Al Azhar, Ahmed Al-Tayeb, dalam menandatangani piagam kemanusiaan sebagai simbol perjuangan kemanusiaan di tengah berbagai gejolak dunia. "NU akan menyertai Gereja Katolik dan seluruh umat manusia untuk melanjutkan semangat dan perjuangan yang telah ditinggalkan oleh Sri Paus Fransiskus dalam mengasuh dan membela kemanusiaan," tegas Yahya.

Senada dengan NU, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, juga mengenang Paus Fransiskus sebagai sosok humanis dan sederhana. Ia mengingat pertemuan hangat dan penuh humor saat disambut Paus di Vatikan pada 24 Februari 2024 dalam acara penerimaan Zayed Award for Human Fraternity. Haedar menyebut Paus sebagai pribadi yang bersahaja, sesuai dengan slogan hidupnya, "miserando atque eligendo" atau "rendah hati dan terpilih". "Kita kehilangan tokoh dan pemimpin utama Katholik yang hidupnya diabadikan untuk kehidupan kemanusiaan yang relijius," imbuhnya.
Universitas Paramadina turut menyampaikan duka cita. Rektor Paramadina, Didik J. Rachbini, mengatakan Paus Fransiskus adalah pemimpin yang merangkul semua golongan, mengedepankan dialog, dan berani membela kemanusiaan. "Warisannya akan abadi sebagai inspirasi lintas iman dalam membangun dunia yang lebih adil, beradab, dan penuh cinta kasih," tutup Didik.


