Chapnews – Nasional – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyerukan kepada seluruh pemerintah daerah (pemda) untuk mentransformasi upaya penghijauan menjadi sebuah gerakan yang tak hanya berkelanjutan, namun juga mengakar kuat di masyarakat. Menurutnya, inisiatif ini bukan sekadar memberikan dampak ekologis, melainkan juga krusial dalam memperkokoh ketahanan sosial dan ekonomi komunitas.
Pernyataan tegas ini disampaikan Bima Arya saat meresmikan Pusat Persemaian Sriwijaya di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada Jumat (7/8). Ia menegaskan bahwa rehabilitasi hutan dan lahan tidak cukup hanya berhenti pada fase penanaman. Lebih dari itu, keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada perawatan intensif dan sinergi multi-pihak yang berkelanjutan.

Bima Arya menekankan bahwa program penanaman pohon harus melampaui sekadar pemenuhan target atau kegiatan seremonial belaka. Penghijauan, menurutnya, wajib menghasilkan dampak konkret dan lestari, baik bagi ekosistem maupun kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama.
"Ini bukan sekadar seremoni, bukan aktivitas biasa, tetapi tentang membangun ketahanan ekologis dan sosial ekonomi. Mewujudkannya tidak mudah, karena membutuhkan kolaborasi yang erat," ujar Bima, mengutip keterangan tertulis dari Kementerian Dalam Negeri.
Kementerian Dalam Negeri sendiri, melalui Bima Arya, terus menginstruksikan pemda agar menempatkan aspek lingkungan sebagai pilar esensial dalam setiap perencanaan pembangunan. Ini termasuk memastikan bahwa indikator ekologis selalu menjadi fokus utama dalam proses perencanaan dan evaluasi pembangunan di tingkat daerah. "Setiap kali kami melakukan asesmen, unsur-unsur ini pasti menjadi perhatian utama," jelasnya.
Wamendagri mengakui bahwa mewujudkan agenda penghijauan yang benar-benar berkelanjutan bukanlah tugas yang ringan. Berbagai tantangan masih membayangi di lapangan, mulai dari isu alih fungsi lahan dan konflik kepemilikan, hingga kompleksitas dalam memilih spesies tanaman yang paling adaptif dengan karakteristik geografis dan iklim masing-masing daerah.
Kondisi ini menuntut adanya dukungan dan pendampingan berkelanjutan bagi pemda, agar program penghijauan tidak sekadar berhenti pada tahap penanaman, melainkan terus berlanjut hingga fase pemeliharaan. Untuk itu, Bima Arya secara khusus mengajak seluruh elemen bangsa—mulai dari pemerintah pusat dan daerah, institusi pendidikan tinggi, sektor swasta, hingga berbagai organisasi masyarakat—untuk merajut kolaborasi erat.
Dengan sinergi yang kuat ini, agenda penghijauan yang telah diinisiasi Presiden diharapkan dapat bertransformasi dari sekadar kegiatan menjadi sebuah ‘gerakan’ nasional yang masif. "Mari kita bangun kolaborasi, mari kita bangun co-creation. Bukan hanya antar-institusi pemerintah, tetapi juga dengan kampus, korporasi, dan seluruh elemen masyarakat. Kita jadikan penghijauan ini sebagai sebuah movement, bukan hanya kegiatan, sesuai arahan Presiden," tegasnya, penuh semangat.
Selain memperkuat fondasi kolaborasi, Bima Arya juga menyoroti urgensi pembangunan budaya merawat lingkungan. Keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan, menurutnya, tidak hanya diukur dari kuantitas pohon yang ditanam, melainkan juga dari konsistensi dan komitmen dalam menjaga serta memeliharanya. "Mari kita bersama-sama membangun budaya merawat. Ini bukan hanya tentang menanam atau seremoni, tetapi tentang aksi nyata yang permanen dan berkelanjutan," pungkas Bima, mengakhiri pernyataannya.


