Chapnews – Ekonomi – Jakarta – Transformasi digital di Indonesia menghadapi kendala tak terduga. Bukan masalah teknis, melainkan kesalahpahaman publik terhadap peran dan fungsi Kecerdasan Buatan (AI). Hal ini diungkapkan oleh salah satu perusahaan teknologi terkemuka di tanah air.
Bintang Hidayanto, pendiri Gani AI, menyatakan bahwa banyak orang masih menganggap AI sebagai solusi ajaib yang mampu menyelesaikan segala permasalahan. Padahal, menurutnya, AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu yang memiliki keterbatasan, bukan solusi otomatis. "AI seharusnya diposisikan sebagai engine untuk membantu pekerjaan dan meningkatkan produktivitas. Di situlah teknologi ini benar-benar bisa berfungsi optimal," jelas Bintang pada Minggu (28/9/2025).

Lebih lanjut, Bintang menekankan pentingnya pemahaman yang tepat tentang AI agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara efektif di berbagai sektor. Tanpa pemahaman yang benar, potensi AI untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi akan sulit diwujudkan.
Chapnews – Ekonomi – Selain itu, kekhawatiran terkait privasi data, terutama dari klien korporasi, menjadi perhatian serius. Gani AI mengambil langkah proaktif untuk mengatasi masalah ini. Mereka tidak menghubungkan model AI dari pihak ketiga secara langsung ke sistem pengguna. Sebaliknya, mereka menjalankan model tersebut di infrastruktur milik sendiri.
"Pendekatan kami berbeda. Model tersebut kami salin dan jalankan di server milik kami. Dengan begitu, seluruh data dan proses tetap berada dalam kendali kami, mencegah potensi kebocoran data ke pihak ketiga," pungkas Bintang. Langkah ini diambil untuk memberikan jaminan keamanan data kepada klien dan membangun kepercayaan dalam penggunaan teknologi AI.



