Chapnews.id – Indonesia kini tengah menyusun strategi besar untuk mengubah peta energi global. Bukan pada sektor minyak atau batu bara, melainkan pada pemanfaatan energi panas bumi atau geothermal. Negara kepulauan ini secara ambisius menargetkan posisi sebagai produsen panas bumi nomor satu di dunia, sebuah pencapaian yang akan menempatkan Indonesia di atas Amerika Serikat.
Saat ini, Indonesia memang sudah berada di jajaran elit pemain energi terbarukan dunia. Berdasarkan data terkini, posisi Indonesia masih berada di peringkat kedua global, tepat di bawah Amerika Serikat. Namun, jarak tersebut dianggap bukan merupakan penghalang yang mustahil untuk ditembus.

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), Ahmad Yani, mengungkapkan optimisme tinggi terkait target besar ini. Menurutnya, modal utama Indonesia untuk memimpin pasar dunia sudah tersedia secara melimpah di dalam negeri. Ia menegaskan bahwa kendala utama dalam pengembangan energi panas bumi bukanlah pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada percepatan eksekusi.
"Saat ini posisi kita berada di peringkat kedua dunia setelah Amerika Serikat. Jika ditanya apakah kita bisa menyalip mereka, jawabannya adalah sangat bisa. Potensi sumber dayanya sudah ada di depan mata, tidak ada isu mengenai ketersediaan potensi sumber daya di tanah air kita," ujar Ahmad dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta.
Kekuatan utama Indonesia terletak pada letak geografisnya yang berada di jalur Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Kondisi geologis ini memberikan keuntungan alami berupa cadangan panas bumi yang sangat masif dibandingkan negara lain. Kekayaan alam ini menjadi aset strategis yang jika dikelola dengan teknologi tepat guna, akan menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional sekaligus komoditas ekspor hijau di masa depan.
Pemerintah Indonesia pun tidak tinggal diam dalam mendukung ambisi ini. Melalui kebijakan transisi energi, pemerintah terus mendorong percepatan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Langkah konkret terlihat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Hijau, di mana pemerintah telah menetapkan target pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang sangat signifikan.
Dalam peta jalan tersebut, kapasitas pengembangan PLTP telah dialokasikan sebesar 5,2 gigawatt (GW). Angka ini menunjukkan keseriusan negara dalam membangun infrastruktur energi bersih secara masif. Dengan peningkatan kapasitas produksi yang konsisten, Indonesia tidak hanya sekadar mengejar target pemenuhan kebutuhan listrik domestik, tetapi juga sedang membangun fondasi untuk menjadi pemimpin pasar energi hijau di kancah internasional.
Melalui sinergi antara pemerintah dan perusahaan energi seperti PGE, perjalanan menuju posisi puncak dunia diharapkan dapat terakselerasi, membawa Indonesia menjadi pemain kunci dalam upaya mitigasi perubahan iklim global melalui energi yang berkelanjutan.

