Bromo Pulih Total! Kemenhut Pastikan Tak Ada Bara Sisa
Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) secara resmi menyatakan bahwa area bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, kini telah bebas dari bara api. Pernyataan ini menyusul operasi pendinginan dan penyisiran intensif yang berlangsung selama hampir dua pekan, bertujuan untuk menyingkirkan setiap potensi api kembali menyala.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menjelaskan bahwa fokus utama tim adalah melakukan mopping up atau pendinginan pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas. Upaya ini krusial untuk memastikan bara benar-benar padam dan tidak merambat ke kawasan lain yang belum terdampak.
"Pendinginan difokuskan pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas agar bara benar-benar padam dan tidak kembali merambat ke bagian kawasan yang belum terdampak," ungkap Dwi dalam keterangan tertulis yang diterima chapnews.id di Probolinggo.
Tim gabungan yang terlibat dalam operasi ini terdiri dari personel Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra), bersama Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD, relawan, serta masyarakat setempat. Mereka terus melakukan pemantauan dan pembasahan di seluruh area yang sebelumnya terbakar.
Dwi menekankan pentingnya kewaspadaan tinggi, mengingat jenis vegetasi yang terbakar meliputi savana, cemara gunung, pakis, semak belukar, hingga lapisan serasah yang tebal. Kondisi ini memungkinkan bara api bertahan lama di dalam material yang terbakar, meskipun kobaran api sudah tidak terlihat. Ancaman lain yang diwaspadai adalah fenomena pusaran angin lokal atau dust devil yang berpotensi mengangkat material ringan dan menyebarkan bara ke area lain.
"Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali, tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak," tegas Dwi. Ia juga menyoroti pentingnya pelibatan aktif masyarakat, tidak hanya dalam pencegahan kebakaran, tetapi juga dalam pengelolaan kawasan taman nasional. Menurutnya, masyarakat adalah pihak terdekat dengan hutan dan seringkali menjadi yang pertama mengetahui adanya gangguan, sekaligus pihak yang paling terdampak.
Dalam rangka menghadapi musim kemarau 2026, Kemenhut tengah memperkuat strategi pengendalian karhutla. Ini mencakup peningkatan kesiapan Manggala Agni, sistem deteksi dini, patroli rutin, serta koordinasi lintas sektor yang lebih solid.
Sementara itu, Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono, yang memantau langsung kegiatan melalui apel siaga, menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh personel yang telah berjuang selama hampir dua pekan. "Personel bekerja menghadapi medan dan kondisi kebakaran yang tidak mudah. Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan," ujarnya.
Suharyono menegaskan bahwa fokus penanganan saat ini adalah memastikan seluruh area bekas terbakar benar-benar aman dan tidak ada bara yang kembali menyala. Insiden karhutla di Bromo menjadi bahan evaluasi penting bagi Kemenhut untuk memperkuat upaya perlindungan hutan dan keselamatan masyarakat, khususnya dalam menghadapi musim kemarau mendatang. Penguatan deteksi dini, respons cepat, dan kolaborasi di tingkat tapak dinilai krusial agar kebakaran tidak berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih luas, seiring dengan peningkatan kesiapan personel dan peralatan Manggala Agni untuk tahun 2026.


