Chapnews – Nasional – Duka menyelimuti Nusa Tenggara Timur (NTT) pascagempa dahsyat yang melanda wilayah tersebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, ribuan bangunan mengalami kerusakan parah, dengan Kabupaten Ngada mencatat angka terparah. Data terbaru juga menunjukkan jumlah korban jiwa terus bertambah, menambah pilu di tengah upaya pemulihan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah terdampak masih terus memutakhirkan data kerusakan tempat tinggal. Hingga saat ini, total kerusakan di Kabupaten Ngada mencapai 1.796 unit rumah, dan proses verifikasi tingkat kerusakan masih berlangsung.

Menyusul Ngada, Kabupaten Manggarai juga mencatat angka kerusakan signifikan dengan 761 rumah rusak berat (RB), 76 rusak sedang (RS), dan 147 rusak ringan (RR). Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Barat, 481 unit rumah dikategorikan RB, 202 RS, dan 231 RR.
Beberapa wilayah lain juga tak luput dari dampak gempa. Di Kabupaten Ende, tercatat 108 unit rumah RB, 85 RS, dan 268 RR. Kabupaten Nagekeo melaporkan 116 unit rumah RB, 6 RS, dan 42 RR. Kemudian, Kabupaten Manggarai Timur mengalami kerusakan pada 23 unit rumah RB, 15 RS, dan 11 RR. Sedangkan di Kabupaten Sikka, 145 unit rumah RB, 16 RS, dan 12 RR.
Tak hanya hunian warga, fasilitas umum seperti tempat ibadah, fasilitas kesehatan, pendidikan, perkantoran, hingga akses jalan turut menjadi korban keganasan gempa. Kerusakan infrastruktur ini semakin mempersulit akses dan upaya bantuan.
Tim SAR gabungan, yang terdiri dari 63 personel Basarnas dan 1.799 potensi SAR, tetap disiagakan di lokasi. Meskipun tidak ada laporan warga hilang, upaya pencarian dan pertolongan terus dioptimalkan, khususnya di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Pelayanan medis darurat juga menjadi prioritas, dengan pos komando berencana mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk memberikan pelayanan kepada warga terdampak.
Aktivitas seismik pascagempa utama masih mengkhawatirkan. Pos Pendamping Nasional mencatat 1.576 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar 6,2. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan 54 di antaranya dirasakan warga. Pola peluruhan gempa belum terlihat jelas, dan kondisi diperkirakan baru akan stabil dalam 2-3 minggu ke depan.
Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8) lalu, berpusat di Kabupaten Nagekeo. Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus. Tragisnya, data BNPB per Senin ini menunjukkan korban meninggal dunia telah mencapai 68 jiwa, sementara 213 lainnya mengalami luka-luka. Situasi ini menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari seluruh pihak.


