Chapnews – Nasional – Perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang memaksa otoritas setempat memberlakukan pembatasan akses bagi kapal wisata menuju Taman Nasional (TN) Komodo. Kebijakan ini secara signifikan membatasi destinasi kunjungan, di mana hanya Pulau Rinca yang kini diizinkan untuk diakses, khususnya bagi kapal jenis speedboat.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, mengonfirmasi pembatasan ini pada Selasa (24/2) pagi. Ia menjelaskan bahwa maklumat persetujuan berlayar khusus untuk speedboat menuju Pulau Rinca telah diterbitkan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi cuaca yang tidak mendukung.

"Maklumat ini kami keluarkan setelah mempertimbangkan dengan seksama informasi prakiraan cuaca maritim dari BMKG Stamar Tenau. Prediksi kecepatan angin dan tinggi gelombang untuk periode 23 hingga 25 Februari [2023] menunjukkan kondisi yang sangat tidak kondusif untuk pelayaran," terang Stephanus. Ia menambahkan, keputusan ini juga didasarkan pada hasil pengamatan langsung dari pos darat serta laporan yang diterima dari berbagai kapal yang beroperasi di perairan sekitar.
Untuk saat ini, surat persetujuan berlayar (SPB) hanya dapat diberikan kepada kapal jenis speedboat yang memiliki tujuan Pulau Rinca. Sementara itu, untuk jenis kapal lainnya, KSOP akan terus memantau perkembangan informasi cuaca terbaru yang dirilis oleh BMKG.
"Keselamatan pelayaran adalah prioritas utama kami. Oleh karena itu, bagi kapal jenis lain, kami akan menyesuaikan kebijakan izin berlayar dengan update informasi cuaca dari BMKG agar keamanan penumpang dan kru tetap terjamin," tegas Stephanus.
Dalam maklumat yang telah diterbitkan, pihak KSOP juga menyampaikan imbauan penting kepada seluruh nakhoda. Mereka diwajibkan untuk memastikan kondisi kelaiklautan kapal sebelum memulai pelayaran. Apabila cuaca menunjukkan tanda-tanda memburuk secara drastis, nakhoda diinstruksikan untuk segera mencari tempat berlindung yang aman dan menginformasikan kondisi bahaya tersebut kepada kapal-kapal lain di sekitarnya.
Selain itu, koordinasi aktif dengan Syahbandar dan Basarnas juga sangat ditekankan jika kondisi cuaca semakin memburuk, guna memastikan respons cepat dan tepat dalam situasi darurat.



