Ads - After Header

Ekonomi RI Tetap Tangguh Meski Inflasi Naik

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Kondisi ekonomi Indonesia tengah menjadi sorotan setelah angka inflasi tahunan tercatat menyentuh angka 3,23 persen pada Oktober 2026. Meski terdapat kenaikan harga di sejumlah sektor, pemerintah menyatakan tidak perlu merasa cemas karena stabilitas ekonomi nasional dinilai masih berada dalam kendali yang aman.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa angka inflasi tersebut masih berada dalam koridor target yang telah ditetapkan oleh pemerintah bersama Bank Indonesia (BI). Target sasaran inflasi saat ini berada pada kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen. Dengan demikian, angka 3,23 persen masih dianggap wajar dan tidak mengganggu stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.

Ekonomi RI Tetap Tangguh Meski Inflasi Naik
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Airlangga menjelaskan bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini juga membawa dampak positif bagi sektor tertentu, salah satunya adalah para petani. Kenaikan harga komoditas tertentu mencerminkan adanya peningkatan pendapatan bagi produsen pangan di tingkat hulu. Oleh karena itu, pemerintah memilih untuk tetap tenang dan membiarkan dinamika pasar berjalan dalam batas wajar sesuai target yang ada.

"Pemerintah tidak khawatir karena inflasi masih berada dalam rentang 2,5 persen plus minus 1 persen. Selain itu, kenaikan ini juga berkaitan dengan peningkatan penghasilan para petani kita," ujar Airlangga saat memberikan keterangan pers usai menghadiri rapat kabinet di Istana Negara, Senin (2/11/2026).

Guna mengantisipasi dampak kenaikan harga pangan terhadap masyarakat kelas bawah, pemerintah telah menyiapkan strategi mitigasi yang konkret. Salah satu langkah utamanya adalah melalui optimalisasi penyaluran bantuan pangan. Program bantuan beras sebesar 30 kilogram per keluarga akan terus digencarkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus meredam gejolak harga beras di pasar.

Selain fokus pada stabilitas harga pangan, pemerintah juga mematok target ambisius untuk pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen hingga akhir tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan mengandalkan dua mesin utama, yakni konsumsi domestik yang kuat dan performa perdagangan luar negeri yang stabil.

Pemerintah berencana mendorong sektor ekspor dan impor agar tetap bergerak dinamis guna memperkuat cadangan devisa dan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, untuk menjaga gairah belanja masyarakat, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus menjelang momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Kami akan mendorong sektor ekspor-impor tetap berjalan optimal. Untuk menjaga daya beli di dalam negeri, akan ada berbagai program khusus saat Nataru, termasuk pemberian diskon spesial serta penyaluran bantuan sosial. Total anggaran bantuan sosial yang disiapkan mencapai sekitar Rp30 triliun untuk memastikan daya tahan ekonomi masyarakat tetap terjaga," pungkas Airlangga.

Melalui kombinasi kebijakan perlindungan sosial dan dorongan sektor riil, pemerintah optimis bahwa tantangan inflasi saat ini tidak akan menjadi penghalang bagi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang telah dicanangkan. Melansir laporan dari chapnews.id, langkah proaktif ini diharapkan mampu menciptakan stabilitas ekonomi yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer