Ads - After Header

Harga Cabai & Bawang Bikin Kantong Jebol? Kementan Punya Jawabannya!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Kementerian Pertanian (Kementan) akhirnya membongkar penyebab di balik fluktuasi harga komoditas hortikultura esensial seperti cabai dan bawang yang kerap meresahkan masyarakat. Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan, Freddy, menyebut ketidakpastian harga ini sebagai tantangan fundamental yang terus dihadapi para petani. Penjelasan ini disampaikan Freddy dalam gelaran International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition (IDLEX) 2026 di ICE BSD, Tangerang, pada Rabu (16/9/2026).

Freddy merinci, persoalan krusial ini berakar pada karakteristik usaha tani hortikultura di Indonesia yang masih didominasi oleh struktur usaha tani yang bersifat individual. Selain itu, skala kepemilikan lahan yang cenderung sempit, umumnya di bawah 1 hektar, serta minimnya perencanaan jadwal tanam, turut berkontribusi pada produksi dan pasokan yang kurang terkoordinasi.

Harga Cabai & Bawang Bikin Kantong Jebol? Kementan Punya Jawabannya!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Ketidakpastian ini timbul karena pertama, mayoritas petani hortikultura masih bergerak secara individual. Kedua, luas lahan usaha mereka masih kecil-kecil, rata-rata di bawah 1 hektar, dan tidak ada jadwal tanam yang terstruktur. Inilah yang menciptakan ketidakpastian di pasar," jelas Freddy, seperti dikutip dari laporan chapnews.id.

Menyikapi kondisi ini, Freddy menegaskan bahwa Kementan di bawah arahan Menteri Pertanian, secara aktif menggalakkan program hilirisasi. Tujuannya adalah untuk mendorong petani hortikultura agar dapat meningkatkan kapasitas serta memperluas skala usaha mereka. Kementan meyakini bahwa petani tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri, melainkan harus membangun pola usaha yang lebih kolektif.

Lebih lanjut, Freddy menekankan pentingnya kepastian permintaan dari pembeli atau buyer sebagai prasyarat sebelum petani menentukan jadwal produksi. Dengan informasi yang jelas mengenai permintaan pasar, petani dapat secara presisi menyesuaikan kualitas, kuantitas, hingga penetapan harga produk yang akan mereka hasilkan, sehingga meminimalkan risiko kerugian dan menciptakan stabilitas.

"Harus ada kepastian permintaan dari buyer atau pembeli terlebih dahulu. Setelah itu, barulah petani bisa menyusun jadwal tanam dan menentukan kualitas, kuantitas, serta harga yang sesuai untuk pasar yang sudah teridentifikasi," pungkas Freddy.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer