Ads - After Header

Heboh! Efek Lipstik Menggila, Rumah & Mobil Ditinggal?

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Di tengah bayang-bayang tekanan biaya hidup yang terus meningkat, sebuah fenomena menarik bernama "Lipstick Effect" justru menunjukkan geliat positif pada sektor-sektor tertentu. Alih-alih mengurangi konsumsi secara drastis, masyarakat kini cenderung mengalihkan prioritas belanja dari barang-barang bernilai tinggi ke produk atau layanan yang lebih terjangkau namun tetap memberikan kepuasan instan.

Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, menjelaskan bahwa tren ini muncul ketika daya beli masyarakat tertekan. Mereka terpaksa menunda pembelian investasi besar seperti properti, kendaraan pribadi, atau bahkan liburan mewah ke luar negeri yang membutuhkan dana besar. Sebagai gantinya, dana tersebut dialokasikan untuk "kemewahan kecil" yang lebih mudah dijangkau dan memberikan kebahagiaan sesaat.

Heboh! Efek Lipstik Menggila, Rumah & Mobil Ditinggal?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Masyarakat kini mencari hiburan atau pemenuhan kebutuhan yang tidak menguras kantong terlalu dalam, misalnya nongkrong di kafe kekinian, membeli produk kecantikan premium, atau menikmati hidangan spesial. Ini jelas mendorong pertumbuhan pesat di sektor makanan dan minuman (FnB) serta ritel tertentu," ungkap Hosianna. Ia menambahkan, pusat perbelanjaan pun masih terlihat ramai, bahkan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sempat memicu kekhawatiran. "Ada sektor yang terhantam, tapi banyak juga yang justru meraup keuntungan. Tren Efek Lipstik ini diprediksi akan semakin menguat ke depan," imbuhnya kepada chapnews.id.

Dampak fenomena ini juga merambah ke industri manufaktur. Hosianna mengamati bahwa produsen masih mampu meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen tanpa kehilangan pasar, karena permintaan tetap stabil. Indikasi ini terlihat dari maraknya program promosi dan diskon yang digencarkan oleh para pelaku ritel dan lembaga perbankan, menunjukkan adanya transaksi yang berkelanjutan dan daya beli yang masih aktif.

"Ini berarti daya beli masyarakat masih ada dan mereka tetap berbelanja, meskipun dengan pola yang bergeser. Jika konsumsi terus meningkat, sektor manufaktur pun akan terus berekspansi," jelas Hosianna. Ia menyimpulkan bahwa dalam jangka pendek, roda perekonomian tetap berputar karena masyarakat masih aktif bekerja dan memiliki kemampuan untuk membeli, meskipun kini lebih selektif dan mengutamakan pengalaman atau produk yang memberikan nilai lebih dengan harga yang bersahabat.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer