Chapnews – Nasional – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif kini mengepung lima gunung di Jawa Timur, menciptakan pemandangan mencekam dengan total area terdampak mencapai 1.488 hektare. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan seiring meluasnya titik api di berbagai lokasi. Satriyo Nurseno, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, mengonfirmasi daftar gunung yang dilalap si jago merah: Kawinajang, Argopuro, Bromo, Semeru, dan yang terbaru, Lawu.
Menurut Satriyo, dua lokasi mengalami dampak terparah: Gunung Kawinajang di Kabupaten Blitar dan Savana Gunung Buthak di Kabupaten Malang. Diperkirakan, sekitar 800 hektare ekosistem telah hangus di kedua wilayah ini, dan angka tersebut berpotensi terus bertambah. Titik api yang masih berkobar di sisi selatan Gunung Kawinajang bahkan memaksa penghentian sementara operasi water bombing. "Kondisi angin kencang dan kepulan asap pekat sangat mengganggu jarak pandang serta membahayakan keselamatan operasional penerbangan," jelas Satriyo pada Selasa (15/9), seraya menambahkan bahwa tim gabungan kini beralih fokus pada pemadaman manual di lereng yang dapat dijangkau.

Sementara itu, Gunung Argopuro, khususnya di wilayah Gunung Gilap, Desa Suci, juga tak luput dari amukan api, dengan 488 hektare lahan yang telah dilalap. Tantangan terbesar di sini adalah medan yang sangat terjal, membuat tim pemadam darat kesulitan menjangkau titik api untuk melakukan penyekatan. Tim gabungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Kabupaten Jember kini berjuang membuat sekat bakar dan membasahi bara api. Sedikit harapan muncul ketika hujan ringan sempat turun di sekitar Hutan Lumut, membantu upaya penyisiran. "Meski masih ada sisa api di beberapa lokasi, vegetasi seperti cemara gunung dan semak belukar telah hangus, bahkan menyebabkan sejumlah pohon tumbang," ungkap Satriyo.
Di jantung Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sekitar 200 hektare lahan di Gunung Bromo, meliputi Desa Ngadas, Watu Gede, dan Jemplang, dilaporkan hangus. Kabut tebal sempat menjadi penghalang visual, namun tim darat tak menyerah, terus menyisir dengan jet shooter dan alkon. Dalam langkah taktis yang inovatif, BPBD Jawa Timur bahkan mengerahkan drone water spray untuk menjangkau area sulit dan mempercepat pemadaman. "Meski titik api visual tidak ditemukan, kepulan asap masih terlihat," kata Satriyo, menjelaskan penggunaan teknologi canggih tersebut.
Tak jauh dari Bromo, api juga masih membara di Gunung Semeru, tepatnya di Blok Metigi Renteng, Desa Argosari, Kabupaten Lumajang. Berbeda dengan Bromo yang diselimuti kabut, Semeru terpantau cerah berawan. Satriyo menyatakan, luasan dampak di Semeru masih dalam proses pendataan, sementara tim gabungan berupaya keras menekan api dengan pemadaman manual menggunakan alat gepyok.
Di tengah perjuangan memadamkan empat gunung, BPBD Jatim dihadapkan pada ancaman baru. Gunung Lawu dilaporkan terbakar pada Senin (14/9) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, di perbatasan Desa Jabung (Magetan) dan Desa Karangrejo (Ngawi). "Titik api masih terpantau di Petak 50 dan Petak 44 RPH Jabung," ujar Satriyo. Personel BPBD Provinsi dan daerah kini sedang melakukan asesmen mendalam dan berkoordinasi dengan warga setempat di lereng Lawu.
Meskipun skala kebakaran sangat luas dan upaya pemadaman penuh tantangan, Satriyo memastikan hingga kini tidak ada laporan korban jiwa. Pendataan dampak keseluruhan masih terus dilakukan oleh tim di lapangan.


