Chapnews – Ekonomi – JAKARTA – Hutan Indonesia ternyata menyimpan potensi ekonomi yang jauh lebih luas dari sekadar hasil kayu. Pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK), khususnya komoditas unggulan lokal, dipandang sebagai kunci untuk menciptakan peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Soewarso, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), menegaskan bahwa paradigma pengelolaan hutan harus bergeser. Menurutnya, fokus tidak lagi hanya pada pemanfaatan hasil hutan kayu, melainkan perlu mengoptimalkan potensi lain seperti hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan.

"Transformasi kebijakan melalui Multiusaha Kehutanan yang mengintegrasikan pemanfaatan hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, dan jasa lingkungan akan menjadi arus utama pengelolaan hutan ke depan," kata Soewarso pada Rabu (22/7/2026).
Untuk mewujudkan Multiusaha Kehutanan ini, Soewarso menekankan pentingnya dukungan riset. Penelitian diperlukan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan yang sesuai dengan karakteristik ekologis, sosial, dan ekonomi di setiap daerah.
Sebagai contoh, Maluku Utara disebut memiliki potensi hasil hutan bukan kayu yang sangat beragam. Potensi ini dapat dikembangkan untuk memperkuat kinerja usaha kehutanan dan sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat.
"Dukungan riset perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan komoditas unggulan hasil hutan bukan kayu, mulai dari aspek budi daya, pengolahan, peningkatan nilai tambah, hingga pengembangan pasar," jelasnya.
Guna mendorong inisiatif ini, APHI telah menjalin kerja sama dengan Universitas Khairun. Kemitraan ini mencakup pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Hutan Pendidikan Universitas Khairun akan menjadi salah satu fokus utama, difungsikan sebagai lokasi riset dan uji coba penerapan konsep Multiusaha Kehutanan.

