Ads - After Header

Jangan Rakus Keruk SDA Demi Cuan

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, memberikan peringatan keras kepada para pelaku industri pertambangan di Indonesia. Ia meminta para pengusaha untuk tidak bersikap serakah dalam mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) demi mengejar keuntungan jangka pendek semata.

Bahlil menekankan pentingnya manajemen sumber daya yang berkelanjutan agar kekayaan alam Indonesia tidak habis dikeruk begitu saja. Menurutnya, pengelolaan kekayaan bumi pertiwi harus dilakukan dengan penuh kebijaksanaan agar manfaatnya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga dapat dinikmati oleh generasi mendatang, termasuk anak cucu kita nanti.

Jangan Rakus Keruk SDA Demi Cuan
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Dalam sebuah forum yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan sektor energi, Bahlil menyoroti pola pikir para pengusaha yang sering kali hanya berfokus pada volume produksi. Ia menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah ke depan adalah mendorong pengelolaan mineral yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah (hilirisasi), bukan sekadar mengejar angka produksi yang masif namun minim manfaat bagi negara.

"Saya sering menerima masukan dan keluhan dari rekan-rekan pengusaha. Namun, kita harus sadar bahwa pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan dengan tata kelola yang baik dan benar. Jangan kita mengelolanya seperti orang yang sedang kelaparan. Jangan seperti orang yang sedang berpuasa, lalu saat buka puasa, ia langsung makan apa saja tanpa perhitungan," ujar Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).

Salah satu contoh nyata yang disoroti Bahlil adalah fenomena industri batu bara di Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, aktivitas pertambangan batu bara memang melonjak tajam secara masif. Namun, Bahlil menilai tingginya angka produksi tersebut belum tentu berbanding lurus dengan keuntungan maksimal yang diterima negara. Hal ini disebabkan karena Indonesia belum memiliki kendali penuh terhadap fluktuasi harga komoditas di pasar global.

Sebagai gambaran skala produksinya, Indonesia diproyeksikan akan memproduksi sekitar 540 juta ton batu bara pada tahun 2025 mendatang. Angka fantastis tersebut setara dengan 43 persen dari total perdagangan batu bara dunia yang diperkirakan mencapai 1,3 miliar ton.

Dengan besarnya kontribusi Indonesia terhadap pasar global, Bahlil mengingatkan bahwa tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan ekonomi jangka panjang ada di tangan para pengusaha. Ia berharap para pemain industri tambang mulai beralih dari pola pikir eksploitatif menuju pola pikir industri yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi bagi bangsa melalui proses hilirisasi.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer