Chapnews – Nasional – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) secara resmi telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang diperkirakan akan berlangsung hingga bulan November mendatang. Keputusan ini diambil menyusul peningkatan signifikan jumlah titik api dan kejadian Karhutla di berbagai wilayah provinsi tersebut, memicu kekhawatiran akan dampak kabut asap yang meluas.
Penetapan status siaga darurat ini bukan tanpa alasan. Musim kemarau panjang yang diperparah oleh fenomena El Nino telah menciptakan kondisi sangat kering, terutama pada lahan gambut dan semak belukar, menjadikannya sangat rentan terbakar. Akibatnya, titik api atau hotspot terus bermunculan dan meluas dengan cepat, menyebabkan kabut asap mulai menyelimuti beberapa daerah, mengganggu jarak pandang dan kualitas udara.

Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan telah diintensifkan oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, bekerja sama dengan TNI, Polri, dan Manggala Agni, terus melakukan patroli darat dan udara secara masif. Operasi pemadaman, termasuk water bombing menggunakan helikopter, juga gencar dilakukan untuk memadamkan api yang sulit dijangkau dari darat. Posko-posko siaga darurat telah didirikan di sejumlah titik rawan untuk mempercepat respons penanganan.
Selain upaya pemadaman, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya membakar lahan serta sanksi hukum yang mengintai pelaku pembakaran juga terus digalakkan. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, mengingat dampaknya yang sangat merugikan bagi kesehatan, lingkungan, dan perekonomian.
Masyarakat di Kalimantan Barat diimbau untuk tetap waspada dan proaktif melaporkan jika menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan. Kabut asap yang ditimbulkan Karhutla berpotensi besar mengganggu kesehatan pernapasan dan aktivitas sehari-hari, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Dengan status siaga darurat yang berlaku hingga November, seluruh pihak diharapkan dapat bersinergi menekan angka kejadian Karhutla demi menjaga kualitas udara dan lingkungan yang bersih di Kalimantan Barat. chapnews.id melaporkan.


