Chapnews – Nasional – Sebuah insiden serius melanda pelayaran di Indonesia setelah Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8, yang mengangkut 243 penumpang dari Surabaya menuju Banjarmasin, dilaporkan hilang kontak pada Minggu dini hari (13/9) sekitar pukul 02.00 WIB. Menyikapi situasi darurat ini, berbagai pihak, termasuk PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan Kepolisian Republik Indonesia, segera mengaktifkan posko dan mengerahkan kekuatan penuh untuk operasi pencarian dan penyelamatan.
PT Pelindo (Persero) Regional 3 Sub Regional Jawa dengan cepat merespons insiden ini dengan mendirikan posko pendataan dan pelayanan informasi yang beroperasi 24 jam penuh. Posko ini berlokasi di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan bertujuan melayani keluarga penumpang yang mencari kepastian informasi serta proses pendataan resmi.

Purwanto Wahyu Widodo, Sub Regional Head Jawa PT Pelindo (Persero), menegaskan prioritas utama adalah aspek kemanusiaan. "Fokus utama kami saat ini adalah kemanusiaan. Pelindo bergerak cepat menyediakan fasilitas posko yang memadai agar proses pendataan korban maupun koordinasi dengan keluarga penumpangnya berjalan lancar," ujarnya, seperti dikutip chapnews.id.
Di Terminal GSN sendiri, setidaknya lima posko gabungan telah disiagakan, melibatkan Polres Tanjung Perak Surabaya, DVI Polda Jatim, perwakilan dari pihak pelayaran KM Virgo Transport 8, Basarnas Surabaya, dan Lantamal V Kodearel V. Ana Adiliya, Branch Manager Kalimas Pelindo Multi Terminal, menambahkan bahwa kesiapan teknis dan operasional di lapangan telah diatur untuk mendampingi keluarga korban. "Kami menyiagakan personel di lapangan untuk mendampingi keluarga korban yang datang mencari informasi. Selain pendataan, posko ini juga difasilitasi dengan ruang tunggu yang layak, sarana komunikasi, serta bantuan medis awal. Kami berupaya memberikan pelayanan terbaik di tengah situasi sulit ini," jelas Ana.
Tak hanya Pelindo, Kepolisian Republik Indonesia juga turut aktif membuka enam posko Disaster Victim Identification (DVI) di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Langkah ini diambil untuk memastikan identifikasi korban yang ditemukan dapat dilakukan secara profesional dan akurat. Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, Karo Penmas Divisi Humas Polri, menyatakan, "Polri tidak hanya memperkuat pencarian dan evakuasi, tetapi juga menyiapkan seluruh dukungan yang diperlukan, termasuk DVI, kesehatan, posko pelayanan, dan jalur komunikasi bagi keluarga."
Posko DVI Antemortem tersebar di Dokkes Polda Jatim (Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Sumenep) serta Polda Kalsel (Pelabuhan Trisakti). Sementara itu, posko DVI Postmortem berlokasi di RS Bhayangkara Surabaya (Polda Jatim) dan RS Bhayangkara Banjarmasin serta RSUD Ulin Banjarmasin (Polda Kalsel).
Operasi pencarian dan penyelamatan di laut diperkuat dengan pengerahan Korpolairud Baharkam Polri, yang mengirimkan tiga kapal polisi: KP Laksmana-7012, KP Ibis-6001, dan KP Manyar-5003. Selain itu, berbagai unsur SAR lainnya juga terlibat, termasuk KN Laksamana milik Basarnas, KNP 382 milik KSOP, beberapa kapal komersial seperti KM Hai Da, KM Niki Mila Utama, TB TCP, TB Mauha IX, KM Cahaya Bahati Jaya, serta dua unit helikopter dari Polda Kalteng dan Basarnas Surabaya. Seluruh kekuatan ini bergerak serentak untuk memperluas area pencarian dan mempercepat proses evakuasi.
Berdasarkan laporan Basarnas Banjarmasin, kapal hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA setelah menghadapi cuaca buruk. Laporan diterima pada pukul 04.10 WITA, dan tim SAR segera diberangkatkan untuk operasi pencarian dan penyelamatan. Hingga pukul 17.00 WITA, total 113 korban telah berhasil dievakuasi, dengan rincian 107 orang ditemukan dalam kondisi selamat dan enam orang meninggal dunia. Investigasi mendalam mengenai penyebab pasti insiden, termasuk faktor cuaca dan kemiringan kapal, akan dilakukan setelah seluruh proses evakuasi rampung.
Pelindo dan Polri mengimbau keluarga penumpang KM Virgo Transport 8 untuk tetap tenang dan mencari informasi resmi melalui posko yang telah disediakan atau call center resmi guna menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat di tengah situasi sulit ini.


