Ads - After Header

Menghadapi Kekeringan dan Karhutla Umat Muslim Diajak Salat

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Kondisi alam Indonesia yang kian memprihatinkan akibat kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu langkah responsif dari pemerintah. Kementerian Agama (Kemenag) RI secara resmi mengeluarkan imbauan kepada umat Muslim di seluruh penjuru negeri untuk melaksanakan salat Istisqa. Langkah ini diambil sebagai bentuk respons terhadap krisis air dan bencana lingkungan yang tengah melanda sejumlah wilayah di tanah air.

Melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Nomor 8 Tahun 2026, Kemenag memberikan panduan teknis mengenai pelaksanaan salat memohon hujan tersebut. Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa edaran ini bukan sekadar instruksi ritual, melainkan sebuah panduan bagi seluruh jajaran Kemenag, mulai dari Kantor Wilayah, Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama, hingga pengurus masjid dan majelis taklim untuk bergerak bersama.

Menghadapi Kekeringan dan Karhutla Umat Muslim Diajak Salat
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Abu Rokhmad menjelaskan bahwa salat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang mendalam untuk mengetuk pintu langit agar Allah SWT menurunkan hujan. Namun, ia menekankan bahwa doa saja tidak cukup. Ikhtiar batiniah ini harus berjalan beriringan dengan aksi nyata dalam menjaga kelestarian alam.

"Kami mengajak umat untuk tidak hanya berdoa, tetapi juga memperbanyak istigfar, memperbanyak sedekah, menghemat penggunaan air, serta berkomitmen menjaga lingkungan agar kebakaran hutan tidak terus terjadi," ujar Abu Rokhmad dalam keterangan resminya.

Secara teknis, Kemenag menyarankan agar salat Istisqa dilaksanakan di tempat terbuka seperti lapangan agar dapat diikuti oleh lebih banyak jamaah. Waktu yang paling dianjurkan adalah pada pagi hari setelah matahari meninggi hingga menjelang waktu Zuhur. Jika tidak memungkinkan, pelaksanaan dapat dilakukan setelah salat Jumat. Salat ini dilakukan sebanyak dua rakaat secara berjemaah tanpa azan maupun ikamah, namun tetap disertai dengan khotbah yang berisi ajakan bertobat dan doa bersama.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis Muhammad Hanafi, menggarisbawahi peran vital para penyuluh agama. Menurutnya, pesan mengenai pentingnya menjaga ekosistem harus disisipkan dalam setiap khotbah dan pengajian. Hal ini bertujuan agar masyarakat memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab iman.

Kondisi darurat ini memang bukan tanpa alasan. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran hutan masih terus berkobar di beberapa provinsi seperti Jambi, Sumatera Selatan, Riau, hingga wilayah Kalimantan. Tercatat ribuan titik panas (hotspot) masih terdeteksi, dengan luas lahan yang terbakar mencapai belasan ribu hektare dalam waktu singkat. Dampaknya, kualitas udara di wilayah terdampak kini berada pada level berbahaya hingga sangat tidak sehat.

Melalui gerakan salat Istisqa ini, Kemenag berharap tercipta sinergi antara kekuatan doa dan kesadaran ekologis masyarakat untuk meminimalisir dampak bencana yang lebih luas. Melansir laporan dari chapnews.id, upaya penanganan karhutla kini melibatkan puluhan ribu personel gabungan, namun dukungan spiritual dan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan tetap menjadi kunci utama.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer